Adat Perkawinan Suku Dayak Krio

Ada Empat perkawinan. Yakni pajadi
banyak, Pajadi iyang banyak, pajadi mantir dan pajadi kampakng. Menurut Andreas
Deka, seorang tetua Dayak Krio di Pontianak, dalam pajadi banyak selalu didahului
adat minta’ noda (pertunangan). Sedangkan pajadi mantir dan pajadi kampakng tidak
ada adat pertunangan. Minta’ noda artinya memberikan barang tanda bukti untuk
bertunangan. Barang itu berupa sepasang gelang perak dan sehelai kain batik dan
diserahkan ke orang tau si gadis. Barang ini diserahkan dua orang yang disebut suruh
harakng sapat santara (perantara) ke rumah calon mempelai wanita.
Tiga hari setelah menerima pinangan, ayah si gadis datang ke rumah orang tua si
lelaki untuk mengetehaui apakah pinangan sudah disetujui orang tua atau belum. Jika
memang orang tua lelaki sudah setuju, maka antara kedua orang tua bermufakat kapan
anaknya ditunangkan.

Adat pertunangan dihadiri pemuka masyarakat dan orang sekampung. Adat
pertunangannya adalah 4 buah tempayan tuak (2 buah dari laki laki dan 2 buah dari
perempuan) serta 4 pangkat nulakng (8 buah piring berisi beras), 2 dari lelaki dan 2
dari perempuan. Tiap pangkat nulakng diatasnya diletakkan satu paha ayam. Sepasang
gelang perak dan sehelai kain batik pinangan barang suruhan juga ditunjukkan.
Inti acara pertunangan adalah menyatakan di hadapan orang banyak bahwa si gadis
dan si lelaki saling akan menikah dan agar tidak diganggu lagi; serta perjodohan
mereka atas kesadaran dan saling mencintai. Berikut ini adalah penjelasan ketiga jenis
perkawinan Dayak Krio seperti dijelaskan Andreas Deka kepada KR.
Pajadi Banyak

Pajadi banyak adalah adat perkawinan yang normal dan utuh. Materi adat dari pihak
lelaki adalah 4 tempayan tuak, seekor babi dan seekor ayam, 2 pangkat nulakng (4
piring berisi beras), 8 lasa adat pasalitn(8 helai kain batik), 8 poku buat rantai perak
adat paloka golakng (seukura sepoku panjang 8cm), sebuah tajau roga tubuh dan
sebuah mangkuk pajanji, 16 poku buat panait (adat perempuan pertama kali naik
kerumh suaminya) dan sebuah mangkuk pajanji.
Materi adat dari pihak perempuan adalah 4 tempayan tuak, 2 pangkat nulakng
1 ditumpa paha ayam, 4 ekor ayam, sebuah tempayan tuak(untuk adat membunyikan
gamal, seekor ayam dan topukng tawar.
Minta’ Pajadi ka Iyang Banyak

Adat perkawinan ini dilakukan karena kedua pihak calon penganten ekonominya
kurang mampu. Adatnya sebagai berikut: sepangkat nulakng perjanjian, 2 pangkat
nulakng sangkolatn (1 pangkat dari laki-laki dan satu pangkat dari perempuan, 6 buah
tempayan tuak(3 laki-laki dan 3 perempuan), 7ekor ayam (4 perempuan dan 3 laki-
laki), 8 lasa.pesalitn (8 helai kain batik), 3 pangkat nukang (1 dari perempuan dan 3
dari laki-laki); seekor babi dari laki-laki; sebuah tapayatn tajo (tajau) dari laki-laki;
sebuah mangkuk pajanji.
Pajadi Mantir
Perkawinan ini adalah antara janda dan duda yang dijodohkan mantir (kayu saborakng
paut kasaborakng).Adatnya sebagai berikut: 6 buah tempayan tuak( 3 dari laki-laki
dan 3 dari perempuan); 16 poku buat ba agah (ngomong); 6 ekor ayam(3 dari laki-laki
dan 3 dari perempuan); seekor babi dari laki-laki; 8 lasa pasalitn (8 helai kain batik)
dari laki-laki. Kain pasalitn ini untuk dibagikan dengan kakek atau nenek sehelai dan
untuk kakak ipar tertua sehelai(jika ada) dan 3 helai untuk mertua dan 3 helai lagi
untuk orang tua; sebuah tempayan tajau roga tubuh; sebuah mangkuk pajanji; 4
pangkat nulakng (8 buah piring berisi beras) 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan.
Pajadi Kampakng
Pajadi kampakng adalah perkawinan antara pasangan yang sudah hamil sebelum
menikah. Seperti yang KR ikuti dalam suatu upacara perkawinan Dayak Krio di
Pontianak, adatnya ada dua, yakni adat kampakng dan adat pajadi. Pajadi kampakng
sebagai berikut. (1) 4 buah tempayan tuak (2, dari laki-laki dan 2 dari perempuan (2)
seekor babi adat kampakng dari laki-laki (3) 4 ekor ayam dari perempuan (4) 2 kali
onam bolas buat rante (rantai perak) dari lelaki/perempuan (5)10 poku buat pocah
(berupa piring atau mangkuk) dari lelaki dan perempuan (6) 4 buah tempayan tuak (2
laki-laki dan 2 perempuan (7) 4 pangkat nulakng (2 laki-laki dan 2 dari perempuan)
2 tiap pangkat ditumpa paha ayam atau mangkuk. (8). 16 bolas buat perjanjian menjaga
sekedar melepaskan adat (terpaksa) yang sebenarnya bukan jodoh sejati.

Adat pajadi (perkawinan) sebagai berikut. (1) 4 buah tempayan tuak 2 dari lelaki-laki
dan 2 dari perempuan (2) 4 pangkat nulakng pajadi 2 lelaki dan 2 perempuan ditumpa
paha ayam (3)seekor babi pajadi dari laki laki dan 3 ekor ayam dari perempuan (4) 8
lasa kaitn pasalitn dari laki laki–8 helai kain batik (5) 16 poku buat panait dari laki-
laki (6) 8 poku buat paloka golakng dari laki- laki (7)sebuah tempayan tajau adat roga
tubuh dari laki-laki (8)sebuah mangkuk pajanji dari laki laki. Setelah adat dikeluarkan
barulah dilanjutkan dengan adat perkawinan.

Hukum Adat Perkawinan Dayak Lara
Perkawinan adalah peristiwa yang terjadi sekali seumur hidup. Prinsip ini umumnya
dianut oleh sebagian besar suku Dayak. Praktek perceraian dan poligami menjadi
terlarang. Prinsip ini juga dianut oleh Dayak Lara di Kab. Bengkayang. Budaya
hormat terhadap lembaga perkawinan dijunjung tinggi. Karenanya pelaku penodaan
terhadap perkawinan akan dihukum adat.

Hukum adat Dayak Lara menggunakan ukuran tahil berupa benda hidup seperti babi
maupun benda mati berupa material tertentu seperti piring, mangkok, gong, tawak dan
lain-lain. Peraga adat hidup satu tahil berupa talam, tawak, kakanong. Sedangkan
peraga adat hidup satu tahil tangah untuk adat hidup peraga adatnya berupa; tempayan
menyanyi, gong wayang, tempayan karokot, 8 buah dau, sebuah lela, senapan lantak,
pahar, gong dan tempayang jampa. Untuk adat meninggal dunia (mati) hitungannya
satu tahil dengan peraga adat hidup. Sementara adat mati dua tahil dengan peraga adat
yang sama. Untuk ukuran hukuman dua tahil hanya ada pada adat hidup dengan
peraga adat tempayan jampa.

Tingkat tahil tertinggi adalah 40 tahil. Hukuman di bawah tiga tahil belum
memerlukan materi hukuman berupa seekor babi. Tapi bila sudah dijatuhi tiga tahil
tangah dan seterusnya selalu diikuti dengan babi yang besarnya menurut tahil yang
ditentukan.

3 Perkawinan Dayak Lara baru akan sah bila kedua belah pihak mengucapkan janji di
depan pengurus adat (temenggung) serta ahli warisnya. Saat itu pengurus adat
memberikan wejangan kepada kedua mempelai sebagai bekal mengarungi bahtera
rumah tangga.

Suami-isteri menurut adat dituntut untuk saling memberi dan menerima. Apabila tali
perkawinan putus karena salah satu pihak lalai memberikan nafkah bathin maka
pelakunya akan dijatuhi hukuman tiga tahil maringa (pulang ke tempat asal).
Pelakunya harus membayar peraga adat berupa sebuah Tempayan jampa, dan seekor
babi.

Larangan perceraian mutlak terjadi. Tapi bila pekawinan sudah tak dapat
dipertahankan maka mereka yang meminta perkawinan akan dikenakan hukuman
adat. Bila yang meminta putusnya hubungannya adalah perempuan, maka ia dijatuhi
hukuman tujuh tahil tangah maringa. Bila yang meminta putus hubungan perkawinan
adalah Laki-laki, maka hukuman adat yang dijatuhkan lebih rendah yakni enam tahil
tangah maringa. Dalam bahasa Dayak Lara kejadian ini disebut karopak subakng.
Namun bila diketahui perkawinan putus karena ingin menikahi orang lain maka
hukuman adatnya bertambah menjadi tujuh tahil tangah maringa, ditambah siam.

Bila perkawianan putus, tidak serta merta mereka dapat menikah lagi. Kedua belah
pihak tidak boleh menikah selama setahun. Kalau isteri yang diceraikan dalam
keadaan hamil maka suami tidak boleh menikah sampai saat mantan isterinya
melahirkan anak. Suaminya juga dihukum adat padi sekoyan (400 Kg) dan sebuah
siam maringa. Kasus adat ini disebut layo lalakng.

Bila salah satu pasangan meninggal dunia maka larangan tidak boleh menikah
bertambah menjadi satu tahun setengah. Pelanggaran atas adat tersebut dapat dihukum
enam tahil tangah maringa (dua buah tempayan jampa dan dua ekor babi).
Perkawinan dalam lingkungan sedarah juga dilarang. Ini berlaku hingga hubungan
darah pada turunan kelima. Perkawinan yang dilakukan dengan saudara sepupu sekali
diancam hukuman sebuah siam sanggar nagari, sebuah siam pangarumpakng, sebuah
panulahatn, sebuah siam pengurus, sebuah siam tepukng tawar, sebuah siam pahar
untuk pengurus adat.

4 Perkawinan antara seseorang keponakan dalam tingkat garis keturunan kedua diancam
hukuman sebuah siam sanggar, sebuah siam bakarabm, sebuah siam sintulahatn, dua
buah siam waris, sebuah siam pahar untuk patone dan sebuah siam tapukng tawar.
Bila suami atau isteri ditinggal pasangannya karena kematian dan hendak menikahi
ipar mantan pasangannya maka dijatuhi hukuman sebuah siam.

Melangkahi saudara yang belum menikah juga dijatuhi hukuman adat. Bila adik
perempuan melangkahi kakak perempuannya, ia dihukum dengan siam kalangkahatn.
Kawin lari juga terancam hukuman tiga buah siam.

Rujuk setelah perceraian diperbolehkan maka keduanya dikenai hukuman sebesar
enam tahil tangah maringa. Apabila keduanya bercerai lagi maka dikenakan hukuman
cerai biasa. Tapi bila ingin rujuk kembali maka akan dihukum sebanyak dua kali lipat
dan seterusnya. Adat tersebut disebut basa’ pagarong. Poligami pun sangat dilarang
karena diancam dengan hukuman siam 12 tahil.

Kini hukum adat perkawinan Dayak Lara tersebut tidak lagi ditarapkan secara penuh
karena pengaruh agama Kristen. Tapi keberadaan agama Kristen tersebut dapat
mengurangi angka perceraian di daerah itu karena Geraja melarang keras perceraian.

Jadi Saump, Perkawinan Adat Dayak Kantuk
Seperti subsuku Dayak lainnya, masyarakat Dayak Kantuk di Kecamatan Embaloh
Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki adat istiadat pernikahan yang mereka sebut
dengan jadi saump. Mereka meyakini bahwa janji dalam pernikahan merupakan
pengikat dalam kehidupan berumah tangga untuk saling cinta dan setia seumur hidup.

Dalam adat istiadat perkawinan Dayak Kantuk, sebelum sampai pada jenjang
pernikahan, calon suami-istri terlebih dahulu harus melewati tiga tahap: bepekat,
betunang dan jadi saump. Menurut A.P. Oempoeng (72) seorang komplet (kepala
adat) suku Kantuk, sejak bertunangan, seorang komplet harus mengetahui. Karena
jika di kemudian hari terjadi perselisihan, komplet akan membantu penyelesaiannya.

5 Pada tahap bepakat, orangtua laki-laki dan perempuan bertemu untuk saling
mengemukakan keinginan menikah anak-anak mereka. Selanjutnya kedua belah pihak
menentukan hari pertunangan. Pada hari pertunangan ini, semua perangkat adat di
kampung mulai dari kebayan, patih, komplet sampai Temenggung harus diundang.
Calon mempelai laki-laki menyerahkan mas kawin kepada perempuan berupa uang
untuk biaya pesta dan perhiasan emas sesuai kemampuan. Mas kawin tersebut
dilengkapi juga dengan pengkeras berupa 1 buah ceper (nampan dari kuningan), 1
buah cincin, 1 buah piring porselen putih dan 1 buah mangkok putih.
Karena sesuatu dan lain hal, jika pertunangan batal, mereka tak luput dari sanksi adat.
Jika yang membatalkan pihak laki-laki, maka dia akan dikenakan hukuman balang
kawin (batal nikah). Terdiri dari hukum adat kampung sebesar 4 buah (1 buah = Rp.
8000 atau 1 buah piring porselen putih), hukum adat supan orang tua 6 buah dan
hukum adat komplet 8 buah. Mas kawin yang telah diberikan kepada perempuan
dianggap hangus. Tetapi jika pihak perempuan yang membatalkan pertunangan maka
selain dikenakan hukum adat balang kawin, ia juga diharuskan mengembalikan mas
kawin kepada pihak laki-laki.

Pada saat jadi saump (pesta perkawinan), kedua mempelai duduk bersanding di atas
tetawak (gong besar) yang dilapisi dengan kain kapuak kumbu (kain tenun khas
Kantuk). Pengantin perempuan mengenakan pakaian adat kain binu’, pakaian adat
perkawinan yang dihiasi dengan manik-manik dan koin perak. Sedangkan mempelai
laki-laki mengenakan cawat. Sebelum upacara adat jadi saump dimulai, Kedua orang
tua mempelai kembali berkompromi untuk menentukan adat pakain (perceraian) dan
pemuai (perselisihan karena salah satu pihak melalaikan tanggung jawab terhadap
keluarga).

Setelah kompromi selesai, upacara adat dimulai dengan kitau (mengibaskan ayam
kampung) ke arah pengantin. Tukang kitau atau pemimpin upacara perkawinan tak
mesti orang-orang perangkat adat atau manang (dukun), tetapi bisa juga orang biasa;
yang penting dia mengerti kitau, membacakan jampi saump dan masih memiliki ibu
dan bapak. “Tukang kitau harus masih memiliki ibu dan bapak dengan harapan bila
kelak pasangan ini memiliki anak kedua orang tuanya tetap lengkap hingga ia
dewasa,” jelas Oempoeng.

6 Setelah kitau, ayam disembelih. Darahnya ditampung di mangkok. Darah ayam
tersebut kemudian diedarkan kepada para undangan, terutama orang-orang tua. Jika
darah ayamnya beku dan padat itu pertanda pasangan akan hidup serasi sampai tua.
Sedangkan bila darah ayamnya berlobang-lobang atau terdapat gelembung-gelembung
udara, pasangan yang bersangkutan diyakini akan tidak langgeng. Darah ayam
tersebut kemudian disengkelan (dioleskan) ke dahi masing-masing pengantin sebagai
tanda sahnya perkawinan. Seperti lazimnya, upacara ritual adat perkawinan
dilanjutkan dengan pesta (makan, minum dan bersuka ria).

Jika dikemudian hari pasangan bercerai, mereka dikenakan hukum adat pakaian
sebesar 50 buah jika menceraikan pasangan dalam keadaan sehat; 70 buah jika sakit
ringan dan 200 buah jika sakit berat. Hukum adat pakain ini ditambah lagi dengan
hukum adat balang kawin. Jika suami tidak bertanggung jawab terhadap istri, apalagi
dalam keadaan mengandung, maka sejak dalam kandungan hingga berumur 18 tahun,
sang Bapak harus menafkahi anaknya sebesar Rp. 3.000/hari dan isterinya sesuai
kemampunan hingga sang istri kawin lagi; ditambah dengan hukum adat balang
kawin.

Perkawinan Adat Dayak Jangkang
Masyarakat Dayak Jangkang berada di Kec. Balai Sebut. Mereka terse-bar di tiga
wilayah ketemenggungan: Koppa, Jangkang Tengah dan Empotokng Engkarokng.
Walau terbagi dua (Jangkang atau Bidoih Jongkakng dan sub-Bidoih Jongkakng),
mereka memiliki kesamaan upacara adat perkawinan.

Hal itu dikatakan oleh Temedy, Ketua Paguyuban Jangkang.Setahunya, adat
perkawinan orang Jangkang dimulai dari proses peminangan yang dilakukan oleh
pihak lelaki. Yang pertamakali harus dipersiapkan dalam meminang adalah wakil atau
utusan serta orang tua calon peminang. Mereka adalah orang yang wajib datang
meminang ke rumah pihak perempuan (calon tunangan). Pada acara meminang,
pemimpin kampung juga wajib hadir. Dalam proses pinangan ini, pihak laki-laki
belum membawa apa-apa, karena hanya mengadakan dialog antar pengurus adat,
perangkat kampung, orang tua kedua calon serta saksi-saksi yang diwakili dari utusan
kerabat.

7 Dulu kata Temedy, syarat utama untuk perkawinan itu ialah dilihat dari kedewasaan
pasangan lelaki. Kedewasaan seseorang tidak dilihat dari umurnya karena jaman dulu
tidak tahu pasti tanggal kelahiran seseorang. Seorang lelaki yang dewasa adalah
bilamana sudah mampu berladang, menyiapkan perangkat atau alat-alat perladangan
seperti beliung, kapak, parang dan sebagainya. Peralatan ketika itu tidak dibeli
melainkan harus membuat sendiri. Ukuran inilah yang biasa dipakai dalam menilai
dewasa atau tidaknya seseorang. Dalam perkawinan adat Dayak Jangkang hanya
mengenal perkawinan monogami.

Lebih lanjut Cristian Mara, seorang seniman Jangkang di Pontianak menjelaskan,
apabila pinangan diterima maka seterusnya harus mempersiapkan perangkat adat,
diantaranya tukar ayam, mangkok dan sebagainya. Upacara adatnya biasa dilakukan
di rumah pihak lelaki, kemudian pihak perempuan datang, lalu disambut orang
sekampung, terutama pihak keluaga lelaki yang membuat acara. Perkawinan adat
yang masih lestari terdapat di daerah Jangkang Tojok, dimana upacaranya dilakukan
dengan cara sakral.

Dalam melaksanakan upacara adat perkawinan, seorang pria memakai cawat ulekng
yang disebut dengan tiop ulekng (celana khas Dayak), sontok cungkekng (logam
berbentuk sepiral yang melingkari kaki dari mata kaki sampai betis), gimaak (seperti
gelang yang melingkari tangan). Alat ini digunakan oleh kedua pengantin sebagai
tanda keabsahan perkawinan.

Pada acara penyambutan atau ncupiik, pengantin pria mengenakan pakaian yang
terbuat dari benang tingang (sejenis akar). Akar kayu tingang ini biasanya juga
dipakai untuk pakaian perang. Perlengkapan lainnya ialah sirih, pinang, kapur, rokok
gulung, korek api ditambah dengan bermacam ragam makanan dan minuman.

Pada proses berikutnya, kedua mempelai disambut di depan gerbang kampung dan
dengan berbagai upacara ritual seperti tari perkawinan daerah Bugau diiringi dengan
tari nyalakng, membunyikan lila (meriam dari baja). Setelah itu, kedua mempelai
dipertemukan di ruang rumah betang dan disandingkan untuk diberi beberapa nasehat
yang disampaikan oleh para tetua adat. Setelah proses itu dilakukan, acara dibubarkan

8 untuk sementara waktu supaya kedua mempelai dan keluarganya bisa istirahat sejenak
serta mandi.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan ritual bebibu. Upacara bebibu merupakan acara
yang cukup besar dimana semua unsur masyarakat, keluarga dan perangkat adat
diikutsertakan. Upacara ritual ini dimeriahkan dengan tembakan lantak ke udara.
Masyarakat disambut dengan acara tincokng (memberi minuman tuak kepada semua
yang ikut dalam acara itu). Bebibu juga dilakukan untuk melihat keberuntungan kedua
mempelai di kemudian hari. Setelah bebibu dilanjutkan sedautn (makan berdua pada
selembar daun). Sedautn diiringi musik tonok (musik gong dan bambu). Pertunjukan
tarian dan pencak silat pun digelar. Setelah ritual sedautn dilanjutkan bebongah
(pemberian nasehat dan petuah-petuah dari orang tua, kepala suku, tetua adat). Kedua
mempelai lalu diberi kunyit wangi dan mandi bersama. Setelah bebongah dilanjutkan
bopacu (kedua mempelai menyajikan makanan dan minuman kepada para tamu).

Acara tersebut merupakan acara pemberian cincin sebagai hadiah perkawinan. Cincin
yang dimaksud adalah alat-alat pertanian atau keperluan hidup ke depan. Selain itu
hadiah juga berupa daging salai (daging yang diasapkan ). Seperti upacara adat
perkawinan Dayak lainnya, babi merupakan bagian utama ritual adat; berikutnya
ayam kampung, telur ayam kampung, sirih, kapur, pinang, rokok dan sebagainya.
Dengan dilaksanakannya ritual itu maka sah sudah kedua mempelai menjadi pasangan
hidup. Siapapun tidak boleh mengganggunya. Kedua mempelai juga sudah siap
mendayung bahtera hidup sampai selama-lamanya.

Tatacara Adat Perkawinan dan Upacara Dayak Tamambaaloh
Tang……tang dungningnang teng……… Begitu kurang lebih intro perpaduan musik
dan tari mengiringi perkawinan sepasang mempelai asal Dayak Tamambaaloh,
Kapuas Hulu. Perpaduan alat musik tataabo (alat musik terbuat dari perunggu).
Kakalintang (alat musik dari kayu lempung), tawak, gong dan gendang terdengar
selaras dengan langkah kaki muda-mudi menari. Sesekali para penari perempuan
menyuguhkan minuman kepada penari laki-laki dalam tarian tabak inyum (irama
inyum). Tarian ini adalah tarian yang diperuntukan untuk orang ramai.

9Perkawinan bagi orang Dayak Tamambaaloh diawali dengan meminang. Dalam hal
ini laki-lakilah yang meminang. Sebelum meminang keduabelah saling pihak bertanya
terlebih dahulu. Kalau ada kecocokan dan sama-sama mau, dan apabila sudah matang
pembicaraan baru meminang. Alat pengikatnya adalah kain dan cincin. Dalam
meminang sudah tak diperbolehkan ingkar. Kalau ada pihak ingkar maka yang
bersangkutan mendapat hukuman. Hukum Buangan Tunang. Dalam hal ini barang
antaran tak boleh diambil dan pihak yang ingkar dihukum denda senilai barang
antaran. Masih ada hukuman tambahan yakni yang bersangkutan dilepaskan dari
kepemilikan harta warisan bersama (keluarga batih).” Papar Drs.Rafael Salaan (67),
tetua Dayak Tamambaaloh panjang lebar kepada KR.

Apabila ada kesepakatan maka pihak yang sudah saling menyukai akan
melangsungkan perkawinan di gereja. Malam harinya atau beberapa hari berdasarkan
hasil kesepakatan dilangsungkan Upacara Adat atau Perkawinan Adat. Upacara ini
biasanya dilangsungkan malam hari karena sekaligus dilanjutkan pesta. Seusai itu
maka mereka dihantar ke tempat tidur. Disana, mempelai perempuan telah menanti
bersama kawan-kawan pemudi. Sang mempelai priapun tidak datang sendiri,
melainkan masuk dengan kawan-kawan lelaki. Tak lama kemudian ada tetua
membawakan/membacakan sastra. tujuannya agar tidur sepasang mempelai nyenyak.
Sastra dimaksud adalah sastra indah bahasa tinggi yang disebut baranaangis.

Malam itu, kedua mempelai tak diperkenankan tidur. Sebab keduanya harus ikut
menari dan berdendang. Upacara Perkawinan dilangsungkan esok paginya. Ada
prosesi adat Sijaratan yang harus dilalui. Upacara Sijaratan mesti dilakukan saat
matahari naik. Berkisar jam 09.00-10.00 atau sebelum jam 12 siang.

“Untuk upacara ini ada peraturan tidak boleh malam atau sore.” pesan Rafael Salaan,
mantan Camat Pontianak Selatan ini dan kini9 masih berdomisili di Pontianak.

Sijaratan itu artinya saling mengikatkan Tali Akar Tanang. (Si-artinya saling. Jaratan,
mengikat). Akar Tanang ini adalah akar yang kuat. Tidak boleh diganti dengan tali
lain seperti nilon atau benang. Akar Tanang ini sebenarnya untuk pengikat manik-
manik (tolang manik).
Teknisnya, tentu saja pihak yang mengikatkan adalah orang lain, bukan kedua

10 mempelai. “Orang lain inipun ada syaratnya.” Kata Salaan bernada peringatan.

Dijelaskan bahwa orang lain dimaksud adalah orang pilihan yang sudah ditunjuk.
Apabila yang menikah kaum bangsawan maka yang mengikatkan adalah sepasang
suami istri orang terpandang yakni Anak Maam.

Pada saat pengikatan tali Akar Tanang dilangsungkan juga Baranaangis. Dilakukan
oleh perempuan ahli. Teknisnya, kepada mempelai laki-laki yang mengikatkan adalah
pasangan istri, kepada mempelai perempuan diikatkan oleh suami dari pasangan
bangsawan itu sendiri.

Sebaliknya apabila Anak Maam (Ulun Maam) yang menikah maka yang mengikatkan
Akar Tanang dengan biji manik adalah bangsawan tulen/murni/tutu (Sepasang
bangsawan). Bukan janda atau duda, tidak pernah kematian anak dan tidak sedang
pisah ranjang apalagi bercerai. Dalam hal ini “derajat” Anak Maam diperoleh karena
kehidupannya berada, tidak pernah melanggar adat, tutur kata sopan santun,
kesemuanya jadi buah bibir di masyarakat untuk dicontoh atau diteladani. Yang
bersangkutan juga mesti ringan hati serta ringan tangan menolong orang yang
mengalami kesulitan.
Makna lain dari tali (Sijaratan) adalah lambang ikatan menjadi suami istri secara
resmi menurut adat Dayak Tamambaaloh. Perkawinan ini diharapkan abadi, tak
terceraikan.

Prosesi Sijaratan biasanya diiringi pembacaan sastra. Tujuannya tak lain dan tak
bukan adalah wujud doa atau mendoakan perjalanan hidup kedua mempelai supaya
berumur panjang, murah rejeki hingga pasangan itu menghadap Pencipta-Nya.
Kehidupan dan kematian bagi warga Dayak Tamambaaloh laksana perjalanan
matahari terbit hingga terbenam (matahari atau mataso dalam bahasa Tamambaaloh).

Lain lagi apabila komunitas Tamambaaloh menikah dengan orang diluar Dayak
Tamambaaloh. Berlaku Adat Pamae’ Batang Tamambaaloh, Pamae’ Mambangan
orangtua si gadis serta Pandaakap Kawan Sundaaman (Pamae’ = pembuka dan
Pandaakap Kawan Sundaaman artinya merangkul kaum keluarga istri agar anak
mereka (generasi mereka kelak) Na’an Subaali maksudnya tidak terlepas

11 kepemilikannya atas harta serta tanah perladangan. Maksud kata Pamae’ (Pembuka)
agar pendatang dimaksud tidak assaoe (kuwalat).

Perkawinan bagi Dayak Tamambaaloh tampak banyak syarat dan melewati proses
panjang. Bukti bahwa masyarakat Adat Dayak Tamambaaloh memiliki sistem
kekerabatan yang khas.

Dilema Penerapan Hukum Adat Perceraian Dayak Riok

Hukum adat Dayak manapun sebenarnya melarang perceraian. Tetapi jika perceraian
harus terjadi, hukum adat dapat menyelesaikannya. Penyelesaian kasus perceraian
secara hukum adat tersebut memang bertentangan dengan hukum Kanonik milik
Gereja Katolik, yang sama sekali melarang perceraian.

Kenyataan tersebut menjadi dilema bagi Dayak Bakati Riok yang mendiami Benua
Riok di Kecamatan Sanggau Ledo Kab. Bengkayang. Penyelesaian kasus perceraian
secara hukum adat sering membuat pusing para ketua adat. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Tumenggung Damianus Duwi, seorang Temanggung Sub Suku
Bakati’ Riok Kec. Sanggau Ledo Kab. Bengkayang. “Ada kasus yang terjadi di
wilayah hukum Benua Riok, seorang istri meminta cerai dengan suaminya. Menurut
sang istri, suaminya telah melakukan Babayu’ (perselingkuhan) dengan perempuan
lain. Karena itu sang istri meminta cerai secara adat,” jelas Temanggung Duwi.

Hukum adat Bakati’ Riok menurut Temanggung Duwi sebenarnya tidak
membenarkan perceraian. “Hukum adat Dayak Riok mengakui adanya hukum
perceraian tetapi secara moral adat, hal itu tidak dibenarkan oleh karena itu pasangan
tersebut harus dihukum,” jelas Duwi.

Masalah serius muncul ketika hal tersebut dikaitkan – dimana pasangan tersebut juga

12 telah menikah secara Katolik karena keduanya orang yang beragama Katolfk.
“Hingga sekarang kasus tersebut menggantung. Walaupun, adat telah memutuskan
mereka berceral dan menghukum mereka secara adat, namun pihak gereja tidak
mengakui keputusan adat tersebut,” tambah Duwi.

Di mata hukum adat, tindakan pihak isteri tersebut bisa dibenarkan. Mereka berdua
dapat saja bercerai karena terbukti salah satu pasangan berlaku tidak setia. Tapi tidak
demikian halnya dengan hukum Kanonik. Gereja Katolik justeru memandang bahwa
perceraian tidak boleh terjadi.

Uskup Agung Pontianak Mgr. Hieronimus Bumbun OFM.Cap menyatakan Gereja
Katolik mengakui eksistensi lembaga adat. “Kami mengakui pula keputusan-
keputusan yang diambil dalam kompetensi hukum adat komunitasnya. Namun ketika
keputusan yang diambil adalah menceraikan sebuah keluarga yang telah menikah
secara Katolik, Gereja Katolik tidak mengakui perceraian tersebut. Perceraian dalam
sebuah perkawinan terjadi hanya bila salah satu dan pasangan tersebut meninggal
dunia,” tegas Mgr. Hieronimus.

Masalah perceraian menurut Mgr. Bumbun bisa diatasi dengan memberi waktu
kepada pasangan tersebut untuk merenungkan kembali masalah yang sedang mereka
hadapi. “Dalam hukum perkawinan Gereja Katolik ada yang dikatakan “pisah
ranjang” dimana waktu tersebut diberikan untuk merenungkan kambali masalah yang
mereka hadapi.”

Ikatan perkawinan bagi Gereja Katolik adalah suatu ungkapan man dimana
perkawinan dianggap sebagai dua manusia yang disatukan oleh Tuhan. Dalam hal mi
pejabat gereja atau institusi Gereja Katolik tidak mempunyai hak untuk menceraikan
mereka. “Iman adalah masalah spiritual seorang Katolik yang diungkapan dalam iman
kepada Tuhan, termasuk dalam ungkapan setia ‘sehidup semati’ dalam ikatan
perkawinan. Nah ketika seorang Katolik memutuskan ikatan perkawinannya, maka ia
telah mengingkari imannya-dan ml bukan masalah orang tersebut dengan gereja atau
pejabat gereja, tetapi masalahnya dengan Tuhan,” tegas Mgr. Bumbun.

Dalam kasus ketika salah seorang dan pasangan telah melakukan perselingkuhan

13 berulang-kàli setelah sebelumnya orang tersebut pernah diampuni perbuatan dan
laporan telah sampai pada Gereja Katolik, pihak gereja atas laporan pasangan yang
dikhianati akan melakukan Pengadilan Yudicial Gereja. “Hal tersebut dilaksanakan
setelah melakukan penyelidikan secara seksama atas hidup perkawinan pasangan
tersebut.”

Penyelidikan tersebut bisa saja memerlukan waktu bertahun-tahun. Karena datam hal
mi, harus diketahui alasan yang sangat tepat dan pasangan yang marasa di khianati.
“Jika pasangan yang merasa dikhianati tersebut sebelumnya tidak mempuyai
kehendak bebas melakukan ikatan perkawmnan, hingga ia merasa tidak mengenal
pasangannya secara utuh, itu merupakan alasan yang paling kuat yang diakui
gereja,”tegas Mgr. Bumbun.

“Namun menyelenggarakan Pengadilan Yudicial Gereja bukan suatu yang dianggap
sepele dan mudah dilakukan. Ia harus melibatkan banyak orang dan menghabiskan
banyak waktu dan tenaga. Kemudian secara psikologis hal tersebut akan
mempengaruhi situasi umat secara keseluruhan.”

Masih menurut Mgr. Bumbun, keputusan yang diambil bukanlah oleh pejabat gereja
di tingkat keuskupan, namun oleh Paus yang berkedudukan di Roma. “Dalam
pengadilan keputusan tersebut dapat saja bersifat menceraikan atau sebalik jika
dianggap alasan yang mendasari tuntutan cerai tersebut tidak kuat.” ungkap Mgr.
Bumbun.

Kasus itu hingga kini masih menggantung. Apalagi upaya pengurus adat untuk
mendamaikan kedua suami isteri tersebut tidak berhasil. Pihak isteri tegas-tegas
menyatakan mau bercerai karena kelakukan suaminya.

Dusa Malakng, Buat Penyelingkuh
Suatu malam, warga memergoki Jari (bukan nama sebenarnya), seorang pemborong
sebuah proyek jalan sedang “bercinta” dengan Es (juga bukan nama sebenarnya).
Keduanya sama-sama sudah berkeluarga. Saat kejadian, suami Es kebetulan tidak
berada di rumah.

14 Menurut Deka, seorang warga masyarakat adat Dayak Krio Ketapang yang tinggal di
Pontianak, perselingkuhan antara Jari dengan Es itu merupakan pelanggaran terhadap
hukum adat dusa malakng (suami orang lain berselingkuh dengan isteri orang lain).
Penyelesaian kasusnya harus melalui perkara adat yang dipimpin oleh seorang mantir
adat (orang yang khusus mengurus masalah hukum adat).

Deka menjelaskan, hukum adat dusa malakng ini terdiri dari dua jenis, yakni dusa
malakng kepada pihak suami perempuan yang berselingkuh dan dusa malakng kepada
pihak isteri laki-laki yang berselingkuh, ditambah donda padusa (pihak laki-laki dan
perempuan yang berselingkuh membayar adat kepada mantir).

Dikatakan Deka, besar masing-masing hukum adatnya berbeda. Dalam dusa malakng
suami orang, pihak laki-laki yang berselingkuh mengeluarkan adat berupa 3 x selawi
(nilai satuan hukum adat tertinggi). Selawi setara dengan 2 x 16 poku (nilai satuan
hukum adat di bawah selawi). Sepoku sama dengan sekitar delapan centimeter rantai
perak, sama dengan empat singkar piring putih. Sedangkan selawi sama dengan
delapan singkar piring putih. yang nilainya sebesar . Pihak laki-laki yang berselingkuh
juga wajib mengeluarkan 3 buah tempayan, dua belas singkar pingatn (piring) putih,
tiga ekor ayam dan seekor babi. “Semua adat itu diberikan kepada pihak suami
perempuan yang berselingkuh,” kata Deka.

Hukuman sejenis diberikan juga kepada pihak perempuan yang berselingkuh. Ia harus
mengeluarkan adat kepada pihak isteri laki-laki yang berselingkuh dengan tiga buah
tempayan, dua belas singkar piring putih, tiga ekor ayam dan seekor babi. “Hukum
adat ini diberikan karena pihak perempuan mengganggu suami orang lain,” tandas
Deka.

Disamping dikenakan hukum adat dusa malakng, keduanya dijatuhi donda padusa
(denda adat). Masing-masing harus mengeluarkan adat dengan sebuah tempayan tajo
(tajau), selawi, sebuah tempayan tuak, seekor ayam dan seekor babi. “Denda adat ini
diatur oleh mantir yang memutuskan perkaranya,” jelas Deka.

15 Dalam kasus seorang bujangan berselingkuh dengan isteri orang lain atau seorang
gadis berselingkuh dengan suami orang lain maka hukum adat hanya dijatuhkan
kepada pihak laki-laki yang belum berkeluarga atau pihak perempuan yang
berkeluarga. Artinya, yang mengeluarkan adatnya hanya pihak yang belum
berkeluarga. Sedangkan pihak perempuan atau laki-laki yang sudah berkeluarga sama
sekali tidak dikenakan, kecualai donda padusa. “Masalahnya, yang belum berkeluarga
itu mengganggu orang yang sudah berkeluarga,” kata Deka beralasan.

Hukum adat yang harus ditanggung oleh pihak laki-laki atau perempuan yang belum
berkeluarga adalah 3 x selawi, tiga buah tempayan, dua puluh singkar piring putih,
tiga ekor ayam, seekor babi dan sebuah tempayan tajau sebagai penyaman hati.
Semua adat itu diberikan kepada pihak suami atau isteri yang menjadi lawan
selingkuh pihak perempuan atau laki-laki yang belum berkeluarga.

Donda padusa dalam kasus perselingkuhan antara pihak laki-laki atau perempuan
yang belum berkeluarga dengan pihak perempuan atau laki-laki yang sudah
berkeluarga sama dengan donda padusa pada orang yang sama-sama berkeluarga.
Masing-masing pihak wajib membayarnya dengan tempayan tajo (tajau), selawi,
sebuah tempayan tuak, seekor ayam dan seekor babi. Adat padusa ini pun diurus dan
diatur oleh mantir adat yang memutuskan perkara.

Sepengetahuan Deka, hukum adat perselingkuhan Dayak Krio yang sekarang tidak
seketat zaman dulu. “Dulu perempuan dan laki-laki tidak boleh berpapasan di jalan;
tidak boleh bersamaan naik tangga rumah, walaupun yang satu naik dari tangga
belakang dan yang satu naik dari tangga depan; tidak boleh mencium anak orang
karena karena dianggap sebagai cium kiriman; tidak boleh ada bekas ludahan kapur
sirih pada lantai jika suami seseorang sedang tidak ada di rumah,” kisah Deka.
Hukum Adat Berselingkuh Dayak Jangkang

16 Suatu hari, Anti (bukan nama sebenarnya) diketahui berselingkuh dengan Anto (juga
bukan nama sebenarnya). Keduanya kebetulan sama-sama sudah berkeluarga.
Perselingkuhan antara Anti dengan Anto ini menimbulkan kemarahan dari pihak
suami Anti dan isteri Anto. Ketentraman rumah tangga kedua belah pihak pun tak
dapat dihindari.

Menurut Camas, seorang tetua adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung di kampung
Pana, sekitar 10 km dari kota Sanggau, kasus perselingkuhan itu tergolong melanggar
hukum adat mengganggu rumah tangga orang lain. Dalam hal ini kedua belah pihak
sama-sama bersalah. Karenanya kedua belah pihak harus membayar denda malu
kepada pihak yang merasa dirugikan. Dalam hal ini, pihak perempuan yang
berselingkuh harus membayar denda malu kepada pihak isteri pasangan
selingkuhannya. Demikian juga sebaliknya, pihak laki-laki yang berselingkuh juga
harus membayar adat malu kepada pihak suami lawan selingkuhnya.

Camas mengatakan, karena berselingkuh itu merupakan perbuatan yang salah, maka
pihak perempuan wajib membayar adat sebesar 6 tael (nilai satuan adat Dayak
Jangkang Jungur Tanjung) kepada pihak isteri lawan selingkuhnya serta membayar
adat sebesar 3 tael kepada pihak suaminya. Pihak laki-laki yang berselingkuh juga
wajib membayar adat sebesar 6 tael kepada pihak suami lawan selingkuhnya dan
membayar adat sebesar 3 tael kepada pihak isterinya.

Lebih lanjut Camas mengatakan, jika perselingkuhan menyebabkan perceraian di
salah satu pihak, maka hukum adatnya akan lebih besar lagi. Hal itu dilihat lagi siapa
yang kuat minta cerai, apakah pihak suami atau pihak isteri. Bila keinginan cerai
datang dari pihak suami, maka pihak suamilah yang dikenakan sanksi adat.
Sedangkan pihak isterinya tidak dikenakan sanksi apapun. Nilai sanksi yang harus
dikeluarkan oleh pihak suami sebesar 6 tael. Disamping sanksi 6 tael, pihak suami
juga harus mengeluarkan babi 10 tokah, ayam 2 ekor, tuak 12 botol, 2 buah tempayan
kecil dan sejumlah uang sebagai ongkos perkara.

Bila pihak suami menceraikan isterinya dalam keadaan cacat fisik, maka hukum
adatnya akan bertambah lagi. “Jika sang isteri diceraikan dalam keadaan cacat, maka
selain membayar 6 tael, pihak suami juga harus membayar sanksi setengah pati nyawa

17 sebesar 8 tael, 2 buah tempayan, 15 tokah babi, 2 ekor ayam dan 16 botol tuak,” kata
Camas.

Dikatakan Camas juga, dalam putusan perkara adat mengganggu rumah tangga orang
lain, masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung biasanya melakukan semacam
pengajuan kasus kepada tetua adat untuk mencari akar permasalahannya. Dalam hal
ini, yang menjadi korban terlebih dulu melaporkan kejadian perkaranya. Pada tahap
pelaksanaannya, pemutus perkara biasanya melihat secara arif mana yang harus
dikenakan sanksi, mana yang tidak dikenakan sanksi, mana yang dikenakan sanksi
lebih berat, mana yang harus dikenakan sanksi yang lebih ringan atau keduanya harus
dikenakan sanksi yang sama berat atau ringannya.

Setiap perkara adat juga selalu dipimpin oleh seorang temenggung. Perkara adat dapat
digelar jika kedua belah pihak terlebih dahulu mengadukan persoalannya ke tetua adat
dan selanjutnya diambil langkah secara bertahap untuk menentukan apa yang
selanjutnya dilakukan. Setelah disetujui kapan, dimana, apa yang harus disiapkan,
bagaimana cara pelaksanaannya, maka kasus tersebut dilanjutkan dan segera dimulai
dengan melibatkan seluruh warga kampung, kecuali anak-anak.

Kemudian, pada setiap menggelar perkara adat selalu ada babi dan ayam, yang
nilainya sangat tinggi. Selain itu ada nilai satuan lain yang disebut tokah. Tokah
bernilai sesuai dengan ukuran kesalahan. Ia merupakan ukuran yang nyata karena
diukur dengan menggunakan jari tangan. Misalnya, 3 tokah sama dengan 3 jari.
Denda adat yang bernilai 3 tael sama dengan 5 tokah, 9 tael sama dengan 15 tokah,
ditambah 3 ekor ayam. Tuak 3 tael sama dengan 6 botol.

Masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung di Pana juga masih menerapkan
hukum adat secara ketat seperti halnya hukum adat pati nyawa, hukum adat cerai,
hukum adat mencuri. Pada setiap putusan adat, masyarakat adat Dayak Jangkang
Jungur Tanjung tetap menggunakan satuan nilai adat yang disebut tael. Nilai adat
tersebut tetap asli karena belum menyesuaikan diri dengan perubahan jaman.
Karenanya, pembayaran sanksi adatnya selalu menggunakan seperangkat adat yang
bila dilihat sekarang sangatlah mudah untuk didapat di pasaran dengan harga yang

18 relatif murah. “Nilai adat di kampung Pana ini masih sangat suci karena belum pernah
mengalami perubahan nilai sanksi sedikitpun. Walaupun begitu, kasus perceraian di
daerah kami dapat dikatakan sangat langka terjadi,” ujar Camas.

Camas pun mengakui, masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung di Pana –
dari dulu hingga sekarang – masih tetap melaksanakan serta menjunjung tinggi adat
istiadat. Salah satu contohnya, masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung
masih melakukan penyembuhan penyakit melalui beboretn (pengobatan alternatif
dengan menggunakan jasa seorang belian). Masyarakat adat Pana pun masih sering
berbalas pantun dengan bahasa sastra.
Hukum Adat Berselingkuh Orang Jawant
Dayak Jawatn Tak Mentolerir Perselingkuhan
Perkawinan yang didorong-dorong oleh orang lain ternyata membawa petaka bagi
Marina (bukan nama sebenarnya). Apalagi Udin (bukan nama sebenarnya), lelaki
yang menjadi suaminya, lebih cocok dijadikan ayahnya. Setelah belasan tahun
menikah, keluarga ini tidak juga mendapatkan keturunan. Dalam kondisi demikian itu,
kehidupan keluarga Marina-Udin dinodai oleh kehadiran orang ketiga, sebut saja
Gaga, teman sekampung Udin. Entah mengapa Marina kemudian terpikat dengan
Gaga hingga hamil.

Berdasarkan keterangan yang dihimpin KR, hubungan Marina dengan Gaga itu
bermula ketika Gaga berkunjung dan menginap ke rumahnya di kawasan Parit
Pangeran. Diam-diam, Marina dan Gaga pun lalu saling cinta. Hubungan Gaga
dengan Marina yang semula hanya terbatas pada tuan rumah dan tamu berkembang
menjadi perselingkuhan. Kedua sejoli itu bahkan melakukan hubungan intim layaknya
suami-isteri.

Sementara, Udin yang bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan di Pontianak
tidak mengetahui jalinan cinta isterinya dengan Gaga itu. Ia bahkan sama sekali tidak
pernah curiga sedikitpun. Ia pun tetap tenang-tenang saja pergi bekerja dan lembur
malam hari di perusahaan tempat ia bekerja. Udin baru tahu percintaan isterinya
dengan temannya itu ketika Marina sudah hamil. Ia pun bertanya siapa ayah dari anak

19 yang dikandung isterinya itu. Marina pun menjawab jujur kalau ayah dari bayi yang
dikandungnya adalah Gaga. Sebab itu Marina pun menceraikan Udin, lalu menikah
secara adat dengan Gaga.

Kasus ini semula tak banyak yang tahu. Tetapi kasus perselingkuhan Marina-Gaga itu
akhirnya tercium juga oleh para Penatua Patih Singa Ria (paguyuban masyarakat
Dayak dari Sekadau). Berdasarkan hukum adat Dayak Jawatn, orang yang
berselingkuh harus dikenakan hukuman adat. Karena itu pada pertengahan Januari
2002 para penatua Paguyuban Patih Singaria menggelar perkara adatnya menurut
hukum adat Dayak Jawatn untuk menyelesaikan permasalahan itu.

Dalam perkara adat tersebut, Gaga dan Marina dikenakan Hukum Adat Beselingkuh
16 Peku (tingkatan dalam hukum adat Jawatn); dengan batang adat terdiri dari 16 x 3
buah mangkok, ditambah 8 sirap (buah) mangkok diisi beras, berkepala dengan
sebuah tempayatn kambong (tempayan adat hitam), berekor dengan 4 jar kain belacuk
(kain putih, sekitar 4 x 90 cm). Ditambahkan adat empogat (untuk makan orang
sekampung) pelanggar diwajibkan mengeluarkan babi 3 renti (sekitar 45 kg), beras
putih 16 kulak (gantang), tuak 6 tempayatn dan seekor ayam.

“Mangkok Sirap dan beras kombang (Beras dalam mangkok) diberikan kepada orang
yang memutuskan adat, sehingga adat ini sah diberlakukan. Karena dalam adat kami
tidak ada istilah beribu. Mangkok sirap dan beras kombang ini dapat diistilahkan
sebagai penandatanganan,” kata Lansang.

Marina sendiri, karena dianggap membuang suaminya maka ia dikenakan juga hukum
adat 16 peku. Pengeluarannya di bagi tiga: dua bagian dikeluarkan oleh Gaga dan
sebagian lagi dikeluarkan oleh Marina. Karena sudah menikah secara adat, maka
Marina dan Gaga tidak dikenakan lagi adat empogat.

Nilai hukum adat ini memang agak sulit diuangkan secara pasti karena kebanyakan
barang-barang, terutama mangkok sakok atau mangkok adat tidak lazim di pasaran
sekarang dan harganya berubah-ubah. Denda adat yang dijatuhkan kepada Marina
kemudian dibayarkan pada tiga pihak yakni orang kampung, Udin dan perkumpulan
Patih Singaria. “Adat ini jangan dilihat seberapa besarnya. Kalau dihitung duitnya

20 memang murah. Tetapi yang lebih penting adalah tujuannya: agar pelaku memperoleh
malu dan kemudian menjadi sadar akan tingkah lakunya. Hukum adat juga penting
untuk meminta maaf kepada alam,” kata Lansang, seorang penatua Patih Singaria.

Dayak Jawant adalah salah satu 11 Sub Suku Dayak yang tergabung dalam
Peguyuban Sekadau, yang berasal dari pedalaman Sekadau Hulu atau Rawak di
Kabupaten Sanggau. Hukum adat Dayak Jawatn tersebut diturunkan oleh
Temonggong Biin Patih Gomin, Kucin Luya Goner Linggap, Lombong Arak, Atu
Lalu, Gurak Mangkak, Beliong Bangkal. Tapi menurut Lansang, hukum adat
perselingkuhan Dayak Jawatn itu tidak terlalu kaku. Dia ditentukan berdasarkan
seberapa jauh porsi kesalahan yang dilakukan pelanggar. Pemutusan adat itu
dilakukan setelah melalui proses perundingan yang panjang dan mendengarkan
keterangan pelaku dan pelapor. “Adat Selingkuh tidak terlalu berbelit. Dilihat
berdasarkan seberapa jauh porsi kesalahannya. Dari sanalah Temonggong atau
pemutus adat, menentukan adat mana yang dipakai,” jelasnya.

Jadi, dengan adanya hukum adat perselingkuhan Dayak Jawatn itu bukan berarti
orang Dayak Jawatn memperbolehkan perselingkuhan. Hukum adat berselingkuh itu
justeru merupakan larangan bagi setiap orang untuk berselingkuh. Dan hukum adat
Dayak manapun tidak pernah melumrahkan orang supaya berselingkuh.

Adat Enam Belas Untuk Selingkuh

No. Nama Adat Banyaknya

1. Mangkok Adat 16 Poku 3 x 16 buah = 48 buah

2. Mangkok Sirap dengan Beras 8 buah

3. Tempayan Adat / Tempayan Hitam 1 buah

4. Kain putih / Blacu 1 jar (1 jar kira-kira 90 cm)

5. Ayam Dewasa 1 Ekor

Adat Empegat untuk Selingkuh

No. Nama Adat Banyaknya

21
1. Babi 3 renti (1 renti kira-kira 15 kg)

2. Beras 16 gantang

3. Air Tuak 6 tempayan

Hukum Adat Selingkuh Masyarakat Jelay Ketapang

Baron (45/bukan nama sebenarnya) telah lama menaruh hati kepada Minarni (37).
Meskipun keduanya sudah sama-sama menikah. Suatu hari Minarni didapati Theresia
Nimah, sang istri sah Baron duduk berdua-duaan di pojok suatu warung pasar malam
17 Agustusan lalu.

Konon, relasi Baron-Minarni sudah berlangsung 5 tahun. Semula, Theresia Nimah tak
menaruh syak wasangka kepada sang suami meskipun banyak pihak yang
menggunjingkan relasi sang suami. Bahkan, si jabang bayi berusia 8 bulan yang lahir
dari rahim Minarni disinyalir adalah buah dari cinta terlarang keduanya. Dugaan ini
diperkuat oleh rupa sang anak yang mirip wajah Baron. Memang, kepercayaan
Theresia Nimah kepada sang suami telah dimanfaatkan untuk melirik ke lain hati
meskipun hati itu sudah milik sah Antonius, suami Minarni. Tetapi, lama kelamaan,
terdorong tekanan dari dalam hati yang menyesakkan membuat Baron gelisah.
menanggung rahasia yang lebih cocok disebut sebagai aib ini. Baron kemudian
mengaku jujur kepada sang istri pernah meniduri Minarni.

Dalam bahasa sehari-hari, Baron telah selingkuh. Dalam bahasa Dayak Jelai disebut
kacau bilau haru biru. Dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi penggangguan
terhadap pasangan suami atau istri sah oranglain.

“Bagi masyarakat Jelay, pasangan yang selingkuh mesti dikenakan hukuman adat.
Hukum adat bagi si pelaku selingkuh adalah 3 buah tajau atau 3 lasaq. Satu (1) tajau

22 senilai 250 perbuah. Kalau 3 tajau berarti bernilai 750 perbuah. Tetapi bukan
rupiahnya yang hendak ditonjolkan disini. Melainkan sangsi moral yang dimaksud
yang semestinya tak bisa dinilai dengan materi.” Ungkap Stepanus Djinar, tetua
Dayak Jelay kepada KR.

Dikatakan bahwa konvensasi benda dalam hukum adat selingkuh harus berupa tajau,
dan tak bisa digantikan oleh benda lain.

“Sebab dalam komunitas kami kesalahan seperti ini tergolong berat.” Tandas aktivis
sanggar budaya Gemalag Kemisiq. Tajau diberikan kepada orang yang menuntut.
Yang menuntut bisa suami yang diganggu, juga dari sang istri yang suaminya
berselingkuh.

“Tiap-tiap selasaq hukuman yang dibayarkan kepada pihak yang menuntut harus
ditambah genggalang buat turun 2 piring. Bagi yang menerima (si penuntut) tiap-tiap
1 tajau harus mengeluarkan genggalang buat turun sama dengan 1 piring. Bagi
komunitas Masyarakat Jelay pihak yang digenggalang harus dibagikan kepada peserta
Sidang Adat, dimana perkara itu diputuskan. Teknisnya, dibagikan kepada peserta,
tua-tua, damung dan raja-raja.” Papar Djinar yang juga guru Muatan Lokal ini.

Dalam Hukum Adat Masyarakat Dayak Jelay berlaku azas bahwa hukum adat itu
tidak boleh kurang tetapi juga tidak boleh ditambah-tambah atau berlebihan.

Seperti halnya hukum adat pada Masyarakat Adat Dayak sub suku lain, bagi Dayak
Jelay setiap jenis hukum adat bertujuan agar pelaku jera sehingga tidak mengulangi
perbuatannya. Apabila didapatkan mengulang maka hukumannya akan lebih besar
lagi. Yakni 3-5 lasaq, tiap selasaq dilengkapi 2 singkar pinggan (sesingkap piring).
Masih ditambah hukuman lagi oleh Damung Ganda Rajaq.

“Tujuannya ‘pengajaran’ kepada orang tersebut dari Damung. Supaya jera dan yang
bersangkutan tidak mengulang perbuatannya lagi. Apabila terjadi mengulang kembali
maka yang bersangkutan tambah hukuman menjadi 3-5 lasaq” Kata mantan lurah
kelahiran Tanjung, 66 tahun silam.

23 Hal lain yang menjadi catatan juga apabila pada saat sebelum maupun selagi
mengurus perkara adat sampai terjadi perkelahian. Maka, ditilik terlebih dahulu
apabila perkelahian itu sampai mengeluarkan darah maka 15 diatas ditambah satuan
barang tajau 1 ditambah 2 piring putih. Tetapi apabila tidak mengeluarkan darah
hanya separuh dari sangsi adat itu yang dikenakan kepada yang bersangkutan.

Pada akhirnya, bagi masyarakat Adat Jelay Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten
Ketapang segenap hukum adat baik yang kecil maupun yang besar ada genggalang
buat yang turun dan naik yang dibagikan kepada peserta sidang.

Download

About ilojack

Selalu ingin tau apa yang belum aku ketahui..
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s