Sejarah Pagaralam Dan Situs Situ Yang Di Temukan

Pertama Sejarah Lahat :

Sekitar tahun1830 pada masa kesultanan Palembang di Kabupaten Lahat telah ada marga, marga-marga ini terbentuk dari sumbai-sumbai dan suku-suku yang ada pada waktu itu seperti : Lematang, Pasemahan, Lintang, Gumai, Tebing Tinggi dan Kikim. Marga merupakan pemerintahan bagi sumbai-sumbai dan suku-suku. Marga inilah merupakan cikal bakal adanya Pemerintah di Kabupaten Lahat.

Pada masa bangsa Inggris berkuasa di Indonesia, Marga tetap ada dan pada masa penjajahan Belanda sesuai dengan kepentingan Belanda di Indonesia pada waktu itu pemerintahan di Kabupaten Lahat dibagi dalam afdelling (Keresidenan) dan onder afdelling (kewedanan) dari 7 afdelling yang terdapat di Sumatera Selatan, di Kabupaten Lahat terdapat 2 (dua) afdelling yaitu afdelling Tebing Tinggi dengan 5 (lima) daerah onder afdelling dan afdelling Lematang Ulu, Lematang Ilir, Kikim serta Pasemahan dengan 4 onder afdelling. Dengan kata lain pada waktu itu di Kabupaten Lahat terdapat 2 keresidenan. Pada tanggal 20 Mei 1869 afdelling Lematang Ulu, Lematang Ilir,serta Pasemah beribu kota di Lahat dipimpin oleh PP Ducloux dan posisi marga pada saat itu sebagai bagian dari afdelling. Tanggal 20 Mei akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Lahat sesuai dengan Keputusan Gebernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan No. 008/SK/1998 tanggal 6 Januari 1988.

Masuknya tentara Jepang pada tahun 1942, afdelling yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda diubah menjadi sidokan dengan pemimpin orang pribumi yang ditunjuk oleh pemerintah militer Jepang dengan nama Gunco dan Fuku Gunco. Kekalahan Jepang pada tentara sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 dan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, maka Kabupaten Lahat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan UU No. 22 Tahun 1948, Kepres No. 141 Tahun 1950, PP Pengganti UU No. 3 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950. Kabupaten Lahat dipimpin oleh R. Sukarta Marta Atmajaya, kemudian diganti oleh Surya Winata dan Amaludin dan dengan PP No. 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dalam Tingkat I provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten Lahat resmi sebagai daerah Tingkat II hingga sekarang dan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otda, dan dirubah UU No. 32 Tahun 2004 menjadi Kabupaten Lahat.

Bukit Serelo terletak di Desa Perangai Kabupaten Lahat, Bukit Serelo merupakan Landmark Kabupaten Lahat. Bukit Serelo disebut juga dengan Gunung Jempol karena bentuknya yang mirip dengan jempol tangan manusia. Pemandangan disekitar sangat mempesona, aliran sungai lematang seakan-akan mengelilingi bukit ini. Bukit serelo merupakan bagian dari gugusan Bukit Barisan yang merupakan barisan bukit terpanjang di Pulau Sumatera.

[sunting] Sekolah Gajah Perangai
Sekolah Gajah ini terletak di Desa Perangai Kabupaten Lahat, lokasinya di kaki Bukit Serelo. Gajah-gajah tersebut dilatih supaya jinak dan dapat membantu pekerjaan manusia seperti mengankut barang-barang dan kayu. Tempat ini merupakan salah satu penangkaran gajah di Indonesia.

[sunting] Sumber Air Panas Tanjung Sakti
Bila anda singgah di Kecamatan Tanjung Sakti, maka jangan lewatkan untuk mengunjungi lokasi ini. Sumber Air Panas Tanjung Sakti dapat ditempuh dari Ibukota Kecamatan sekitar 10 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4. Karena letaknya berada dekat dengan pusat keramaian Kecamatan Tanjung Sakti.

Penduduk sekitar atau pengunjung yang datang, sering membuat telur rebus hanya dengan merendamnya sekitar 5 menit dan menyiapkan garam atau merica bubuk, telur siap disantap.Anda tidak perlu repot-repot untuk membawa telur dari rumah, karena penduduk sekitar menjual telur dikarenakan adanya Sumber Air Panas ini. Letak Sumber Air Panas ini berada tepat dibawah jembatan yang setiap hari dilalui oleh masyarakat sekitar.

[sunting] Air Terjun Lawang Agung
Salah satu potensi wisata yang berada di Kecamatan Mulak ulu ini layak untuk dikembangkan untuk menambah pendapatan daerah, dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari jalan utama, lokasi Air Terjun Lawang Agung dapat dicapai dengan menggunakan mobil. Kondisi jalan menuju lokasi sekitar 500 m, dengan kondisi jalannya menurun dan berbatu-batu kecil.

Pada saat perjalanan ke lokasi melewati sekolah SD dan kebun kopi. Di sekitar lokasi, terdapat jembatan gantung. Aktifitas yang dapat dilakukan dilokasi ini adalah berenang, mancing dan jala ikan.

Dengan melengkapi fasilitas dan sarana umum seperti lahan parkir dan perbaikan kondisi jalan menuju lokasi, diharapkan dapat meningkatkan sumber pendapatan daerah dan penduduk sekitar.

[sunting] Rumah Batu
Lokasi wisata Rumah Batu terletak sekitar 80 km dari kota Lahat, tepatnya di desa Kota Raya Lembak Kecamatan Pajar Bulan. Rumah Batu ini merupakan salah satu benda megalitik yang pada dindingnya terdapat lukisan kuno berupa makhluk-makhluk aneh.

[sunting] Batu Macan
Batu macan yang terdapat di Kecamatan Pulau Pinang, Desa Pagar Alam Pagun ini sudah ada sejak jaman Majapahit pada abad 14. Batu macan ini merupakan simbol sebagai penjaga (terhadap perzinahan dan pertumpahan darah) dari 4 daerah, yaitu : Pagar Gunung, Gumai Ulu, Gumai Lembah, dan Gumai Talang.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari penjaga situs setempat yakni Bapak Idrus, kisah adanya batu macan terkait dengan legenda si pahit lidah yang beredar di masyarakat. Pada waktu itu, si pahit lidah sedang berjemur di batu penarakan sumur tinggi. Pada saat sedang berjemur, si pahit lidah melihat seekor macan betina yang sering menggangu masyarakat desa, kemudian oleh si pahit lidah, macan tersebut di ingatkan agar tidak mengganggu masyarakat desa. Namun, macan tersebut tidak menuruti apa yang disampaikan oleh si pahit lidah. Padahal si pahit lidah sudah menasehati macan tersebut sampai tiga kali, sampai akhirnya si pahit lidah berucap “ai, dasar batu kau ni”. Akhirnya macan tersebut menjadi batu. Setelah diselidiki, ternyata macan tersebut adalah macan pezinah dan anak yang sedang diterkamnya adalah anak haram. Sedang macan yang ada di belakangnya adalah macan jantan yang hendak menerkam macan betina tersebut.

Apabila ada wanita disuatu desa diketahui berzinah, maka terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh si wanita itu yaitu: menyembelih kambing untuk membersihkan rumah, kemudian sebelum kambing tersebut dipotong, maka orang tersebut harus dikucilkan dari desa ke suatu daerah lain atau di pegunungan. Kemudian apabila wanita tersebut mengandung dan melahirkan, maka harus menyembelih kerbau. Setelah persyaratan tersebut dilakukan, maka wanita tersebut dapat diterima di masyarakat kembali.

[sunting] Air Terjun Bidadari
Tidaklah mengherankan, mengapa Syuting Pembuatan Film “Si Pahit Lidah” yang terkenal itu mengambil setting di lokasi ini. Keindahan Air Terjun Bidadari memang menjadi daya tarik tersendiri. Selain menyajikan keindahan alam yang alami, lokasinya pun tidaklah terlalu sulit untuk dicapai. Air Terjun Bidadari terletak di desa Karang Dalam Kecamatan Pulau Pinang kurang lebih 8 km dari kota Lahat.

Disekitar lokasi Air Terjun tersebut, ada 3 Air Terjun (Air Terjun Bujang Gadis, Air Terjun Sumbing dan Air Terjun Naga) lagi yang dapat dinikmati dengan menyusuri aliran dari Air Terjun Bidadari.

Dengan dipandu penduduk sekitar yang sudah mengenal daerah tersebut, anda dapat menikmati keindahan ke 4 air terjun yang alami tersebut dan alam sekitarnya dengan menyusuri sepanjang aliran airnya.

Sejarah Pagaralam Dan situs situ  yang di temukan :

Pendahuluan
Religi ( religion) dalam konteks prasejarah bukanlah mengandung arti mengenai kondisi agama seperti sekarang ini, namun pada tingkat perkembangan mula-mula konsepsi religi berhubungan dengan masalah kehidupan dan kematian. Gagasan ini pada gilirannya melahirkan interaksi antara yang telah mati dan yang masih hidup, ( Diman S, 1989:407). Menurut Wallace religi merupakan seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos, dan yang menggerakkan kekuatan-kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai atau umtuk menghindarkan sesuatu perubahan keadaan pada manusia atau alam. Wallace 1966:107). Oleh karena itu hal-hal yang berkenaan dengan religi mencakup pula seperangkat kepercayaan yang berkenaan dengan sesuatu yang bersifat supranatural, simbol-simbol sakral dan berkaitan dengan ekspresi dari emosi manusia dalam lingkup religi, serta nilai-nilai moral yang menghubungkan antara perasaan manusia dengan dunia supernatural.

Interaksi manusia dengan leluhurnya mengalami perkembangan yang luar biasa pada masa berlangsungnya kebudayaan megalitik. Secara umum kebudayaan megalitik mengacu kepada dan berorientasi pada kekuatan-kekuatan supra natural yang mengaitkan pada kepercayaan akan adanya kekuatan gaib pada benda maupun mahkluk hidup dan kepercayaan adanya kekuatan roh dan kekuatan pada arwah nenek moyang ( Haris Sukendar, 2003: 27 ). Aspek religi pada masyarakat megalitik yang diketengahkan pada tulisan ini bermuara pada eksistensi bangunan-bangunan megalitik yang terdapat di dataran tinggi Pasemah yang sudah mengalami kemajuan, seiring dengan terjaminnya kebutuhan hidup dan dengan ciri kehidupan yang sudah menetap.

Meningkatnya taraf hidup masyarakat pendukung megalitik Pasemah tersebut tidak terlepas dari kearifan masa lalu yang mengubah pola pikir manusia dalam menyerap dan mengembangkan tehnologi demi mendukung kehidupan mereka, sehingga terciptalah alat-alat bantu produksi maupun alat rumah tangga sampai kepada membentuk spesialisasi kerja sesuai dengan kecakapan dan keahlian tertentu. Implikasi dari keadaan tersebut membuka alam pikir mereka tentang sesuatu dan sangat berpengaruh bagi kehidupan mereka, sehingga lahirlah embrio kepercayaan yang termanifestasikan dalam karya-karya yang monumental berupa bangunan-bangunan megalitik yang dapat kita lihat sampai saat ini. Eksistensi bangunan megalitik di dataran tinggi Pasemah oleh salah seorang arkeolog bangsa asing dikatakan: the strongly dynamic agitated yaitu berdasarkan atas bukti-bukti akan tampilnya arca-arca megalitik yang sifatnya dinamis dan menunjukkan perubahan-perubahan secara mendasar dari bentuk arca menhir yang sifatnya statis kepada arca-arca yang dipahatkan dengan anggota tubuh dan badan yang mengandung gerak bervariasi ( Haris Sukendar, 1999:8 ). Dengan kata lain disamping mewujudkan fungsi pemujaan, pendukung budaya megalitik di Pasemah telah memberi petunjuk bahwa seorang seniman dengan landasan imajinasinya yang berorientasi pada alam kenyataan akan melahirkan pahatan-pahatan atau hasil karya dengan bentuk karya-karya yang indah, namun apabila dilihat dari hasil pahatan situs megalitik di Pasemah telah memberikan gambaran bahwa imajinasi sang seniman telah terkontaminasi oleh tekanan-tekanan batiniah yang berorentasi religi. ( Sukendar, 1999: 181).

Permasalahan
Bangunan-banguna megalitik di Pasemah dengan karakteristik morfologi dan fungsinya dapat kita amati bagaimana hubungan megalitik-megalitik tersebut terhadap kehidupan religi dan tampilan seni yang kontemporer pada zamannya. Dari data-data arkeologis yang menjadi acuan penulisan ini adalah berangkat dari asumsi adanya keterkaitan antara pola hidup yang memunculkan kehidupan religi dan tercermin dari bentuk karya seni. Christoper Dawson dalam bukunya ”Religion and Culture” mengemukakan cara hidup mempengaruhi religi dan religi mempengaruhi cara hidup. Apa saja yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat selalu dihubungkan dengan religi, sehingga setiap kegiatan ekonomi maupun sosial mempengaruhi bentuk yang berhubungan dengan religi. ( Dawson C, 1948:57 ).

Metode
Dalam menyajikan tulisan ini, penulis mencoba melihat bagaimana hubungan bangunan-bangunan megalitik di Pasemah dengan kehidupan religi dan seni, metode yang akan digunakan adalah metode gabungan antara induktif-deduktif seperti yang pernah dilontarkan oleh Mundarjito dalam PIA IV di Cipanas tahun1986. Metode induktif memulai cara kegiataannya melalui tahap-tahap yakni pengumpulan data, pengolahan data , sintesis dan interpretasi, sedangkanpada penelitian deduktif dimulai dengan perumusan masalah, menarik hipotesa, dan kemudian melakukan pembahasan secara teoritis dan terakhir penyimpulan. ( Mundarjito, 1986: 201).

Landasan Teori

Tradisi megalitik merupakan suatu tradisi yang berhubungan erat dengan batu-batu besar. Pengertian megalitik menurut Van der Hoop mencakup tiga unsur pokok yaitu : monumen besar, batunya utuh ( monolith ), masuk dalam budaya prasejarah. ( Hoop, 1932). Namun dalam perkembangannya, Van Stein Callenfels mengatakan bahwa pada prinsipnya bangunan megalitik didirikan untuk pemujaan kepada arwah nenek moyang. ( Callenfels, Van Stein, 1961,66 ), begitupula beberapa pendapat para ahli seperti yang diinformasikan oleh Von Heine Geldern, Rumbi Mulia, R.P.Soejono dll, bahwa munculnya megalitik tidak terpaku karena usaha manusia untuk senantiasa mendekatkan diri pada arwah leluhur, akan tetapi ide pembuatan megalitik telah diilhami oleh kehidupan duniawi antara lain pendirian megalitik untuk menjaga martabat, harkat serta nama dan kemasyuran. ( Geldern, 1945; Rumbi Mulia, 1981, Sukendar; 2003; 28 ).

Dari statement diatas sangat jelas kepercayaan ( religi ), dan kemashuran seseorang yang memiliki ego sentris kekuasaaan seorang pemimpin dengan sangat kuat mempengaruhi terciptanya karya seni yang ada seperti pada pahatan megalitik di Pasemah. Unsur seni yang ditampilkan dalam tulisan ini mengacu pada definisi seni rupa yakni sebagai upaya penciptaan keindahan maupun berkomunikasi dengan peminatnya terutama yang dapat dinikmati oleh mata. Dalam seni rupa tercakup seni lukis, seni patung, seni bangunan dan seni kerajinan. ( Soemiyati A.S, 1996 : 336 ).

Pengambilan data yang diambil dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengaplikasikan metode induksi-deduksi ( Mundarjito: ibid ), dan mengambil suatu hipotesa ”bahwa masyarakat yang telah hidup dengan mengenal bercocok tanam sederhana dan penjinakan hewan-hewan tertentu telah mengalami taraf hidup yang lebih maju, dari masa-masa sebelumnya dan oleh karena surplus bahan makanan tersebut mendorong timbulnya bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang “. Salah satu segi yang menonjol dalam kehidupan bermasyarakat adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah kematian dan timbullah kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang tersebut meninggal sangat mempengaruhi kehidupan manusia. (Soejono, 1984:204).

Keadaan Lingkungan
Situs-situs megalitik di daratan tinggi Pasemah meliputi daerah yang luasnya sekitar 80 km 2. Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, di puncak gunung, di lereng dan ada yang di lembah. Pada umumnya situs-situs megalitik berada di ketinggian 400 meter dpl, karena terletak di dataran tinggi maka daerah ini mempunyai curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Daerah Pasemah wilayahnya meliputi Bukit Barisan dan di kaki pegunungan Gumai. Satuan morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan batu hasil letusan gunung api Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batu-batuan vulkanis. Letusan gunung api inilah yang menyebarkan batu-batuan sampai ke daerah – daerah yang termasuk satuan morfologi bergelombang dan satuan morfologi daratan. Selain itu di daerah Pasemah terdapat alur-alur sungai besar dan kecil yang memudahkan transportasi air dan sumber kehidupan. Pada umumnya keadaan alam yang subur memudahkan mereka untuk berkebun dan membudidayakan ternak dan membuat rumah – rumah hunian dengan tiang yang tinggi.

Hasil Seni di Situs-Situs Megalitik di Pasemah
Data awal yang membahas tentang bangunan megalitik dan arca-arca megalitik di Pasemah adalah L.Ullmann,1850 yang menulis artikel tentang “Hindoe-belden in de binnenlanden van Palembang”selanjutnya E.P Tombrink dan Westenenk menyimpulkan yang sama bahwa peninggalan di daerah Pasemah merupakan hasil dari pengaruh Hindu. Kemudian pada tahun 1930 -1932 Van Erde seorang tokoh bangsa Belanda menugaskan ahli yang lain yaitu Van der Hoop untuk memulai penelitiannya tentang latar belakang tinggalan batu besar Pasemah. Dari penelitian yang dilakukannya tersebut maka pada tahun 1932 diterbitkanlah sebuah buku yang menarik berjudul “Megalithic Remains in South Sumatra”. Dari hasil penelitiannya ini maka terbukalah cara pandangbaru tentang tinggalan megalitik di bumi Pasemah. Penelitian tentang tinggalan megalitik di Pasemah ini selanjutnya diteliti lagi oleh beberapa arkeolog dari Puslitbang Arkenas di Jakarta dan juga oleh beberapa peneliti dari Balai Arkeologi Palembang.

Dalam kaitannya dengan judul penulisan ini penulis mengambil data dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya antara lain laporan penelitian yang dilakukan oleh Budi Wiyana, Haris Sukendar, dan Van der Hoop yang mempunyai relevansi dengan kehidupan yang menggambarkan kehidupan seni dan religi masyarakat pendukung budaya megalitik di Pasemah. Adapun situs-situs yang mengandung tinggalan arkeologi tersebut antara lain:

1. Situs-situs arca megalitik

Situs Tanjung Aro menggambarkan pahatan seseorang sedang berkelahi melawan ular

Situs Muara Danau menggambarkan pahatan seorang menggendong anak

Situs Muara Dua menggambarkan seseorang yang menggendong sesuatu pada punggungnya

Situs Gunung Megang menggambarkan tokoh manusia yang menindih gajah dalam posisi terlentang

Situs Tebing Tinggi dipahatkan gambaran orang mengendarai kerbau

Situs Benua Keling dipahatkan orang naik gajah

Situs Gunung Megang terdapat arca kepala manusia

Situs Kota Raya Lembak terdapat arca kepala manusia

Situs Tinggi hari dipahatkan seseorang sedang duduk dengan menggendong gajah kecil, dan arca babi hutan yang belum selesai, selain itu terdapat menhir yang terdapat tokoh manusia dan buaya.

Situs Sinjar Bulan terdapat pahatan orang duduk membimbing anak kecil

Situs Tebat Sibentur dipahatkan seseorang memakai kalung.

Situs tegur wangi terdapat arca 3 buah

Situs Tanjung Sirih terdapat arca yang menggambarkan orang naik kerbau, orang memakai helm,dua orang bergendongan dan harimau menekam anak kecil.

Situs Tanjung Telang terdapat pahatan orang membopong gajah.

Arca dari situs di Air Purah, melukiskan dua orang prajurit yang berhadap-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan yang lain memegang tanduk kerbau

2. Lukisan pada batu cadas dan kubur batu, antara lain:

Situs Tanjung Aro, lukisan orang naik kerbau

Situs Kotaraya Lembak hiasan sulur-suluran, binatang melata, lingkaran consentris

Situs Tegur wangi dipahatkan gambar orang berlari sambil bawa nekara di punggung, serta terdapat semacam sinar dan sayap. Pada bagian dinding bawah batu cadas terdapat tiga buah manusia kangkang dan goresan garis-garis serta lubang – lubang kecil

Situs Muara Pinang terdapat goresan berbentuk manusia

Situs Gunung Megang dipahatkan padsa batu datar menggambarkan garis – garis berbentuk ikan dan tombak

Situs di Tebat Sibentur menggambarkan anggota badan sebatas dada ke bawah.

Kehidupan Religi dan Seni di Situs-Situs Megalitik Pasemah.
Definisi senirupa oleh Dr Soemijati AS dikatakan sebagai upaya penciptaan keindahan yang mampu berkomunikasi dengan peminatnya terutama yang dapat dinikmati melalui mata. Dalam seni rupa tercakup sen lukis, seni patung, seni bangunan dan seni kerajinan ( Soemijati A.S, 1996: 336). Pada masa berkembangnya kehidupan bercocok tanam menetap konsep hidup masyarakat pada waktu itu sangat tergantung pada sumber daya alam. Lingkungan alam mempunyai pengaruh yang kuat dalam kehidupan di masyarakat sehingga memunculkan dinamika sebagi upaya menyiasati kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok mereka, sehingga hal ini mendorong timbulnya sepesialisasi keahlian dan organisasi kemasyarakatan demikian pula keberadaan lingkungan alam dengan berbagai jenis fauna dan flora telah mempengaruhi inspirasi dalam karya seni seperti seni patung, seni lukis, seni pahat, dll ( Haris Sukendar,2003: 18 ).

Dalam kehidupan manusia alam sangat mempengaruhi panca indranya sehingga antara keduanya timbul interpretasi timbal balik ( Soemijati 1996: 336). Alam memberikan sumber inspirasi kehidupan, sehingga konsep kepercayaan inilah yang menimbulkan kepercayaan tertentu, yakni;

Adanya anggapan bahwa tanah merupakan unsur penting di dalam kehidupan, hal tersebut merupakan pendorong untuk memanfaatkan lahan pertanian dengan baik.

Sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati merupakan segi yang menonjol dalam masyarakat.. Kepercayaan bahwa roh seseorangtidak lenyap, tetapi hidup terus di alamnya sendiri sangat mempengaruhi kehidupan manusia.

Kematian dianggap tidak membawa perubahan dalam kedudukan ( status sosial ), keadaan dan sifat seseorang ( Diman Suryanto, 1990: 414)

Konsep religi inilah yang mendorong para seniman mengekspresikan karya karyanya dalam bentuk seni lukis, yang merupakan visualisasi lambang-lambang seperti matahari, bulan, pohon, binatang dan benda-benda lain yang diwujudkan / dilukis pada dinding atau batu cadas, bentuk-bentuk yang dilukiskan pada dinding – dinding Goa tersebut beraneka ragam baik yang bersifat naturalistik dengan garis-garis sederhana maupun abstrak. Secara umum dikatakan bahwa permulaan seni manusia prasejarah diperkirakan lahir pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Tradisi yang bersifat artistik, goresan, maupun pahatan awal mulanya diterakan pada dinding-dinding goa atau ceruk. ( Kosasih, 1982 ; 67 ). Namun dalam perkembangannya di Indonesia baru ada pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, yang ditemukan di Indonesia bagian Timur dengan bentuk-bentuk tampilannya sangat beragam baik secara nyata maupun secara abstrak ( I Dewa Kompiang Gede, 1997; 40 ).

Dalam tradisi megalitik keindahan merupakan sesuatu yang penting dimana keindahan suatu obyek megalitik dipengaruhi oleh maksud dan tujuan pembuatan obyek itu sendiri, Menurut Soemijati A.S. dikatakan karya seni prasejarah ditentukan oleh faktor-faktor yang mendukung penampilannya, faktor-faktor tersebut adalah kepercayaan sehingga karya seni tersebut penggambarannya kurang memperhatikan kekuatan anatomi serta posisinya.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Pasemah, terlihat bahwa cara-cara pemahatan yang halus , rumit dan menarik ( Haris Sukendar, 1985: 15 ). Tampilan seni yang ditampilkan oleh pendukung tradisi megalitik di Pasemah tersebut dapat dijumpai pada pahatan-pahatan arca megalitik, dan dinamika seni pada megalitik Pasemah pun dapat kita perhatikan pada lukisan-lukisan dinding pada kubur-kubur batu di situs Tanjung Aro, situs Tegur wangi, dan situs Kota Raya Lembak. Seni lukis yang ditampilkan berupa lukisan manusia, lukisan fauna, sulur-suluran benda buatan manusia, maupun benda alam. Lukisan yang diterapkan pada dinding kubur batu tersebut memiliki kualitas tinggi dan telah mengenal percampuran warna yaitu; warna hitam dari bahan arang, warna putih , dan warna kuning dari tanah liat dan warna merah dari hematite merah. ( Sukendar, 2003; 121 ). Pemberian warna merupakan simbol kepercayaan akan makna religius seperti warna merah melambangkan keberanian, warna kuning melambangkan keagungan dan warna putih melambangkan kesucian. Selain itu temuan arca-arca batu yang dinyatakan Von Heine Geldern bersifat dinamis menggambarkan bentuk-bentuk binatang seperti gajah, harimau, ular.

Plastisitas seni arca yang menonjol ini menunjukkan tingkat keahlian si pemahat. Seni ataupun estetika yang dimunculkan pada kehidupan manusia prasejarah tidak terlepas dari tujuan dasar pembuatannya yakni untuk memenuhi kebutuhan rohani. Tampilnya pahatan-pahatan arca baik yang bersifat statis maupun dinamis mengacu pada konsepsi kepercayaan yang mendasari pola pikir masyarakat dalam hubungannya dengan pemujaan arwah leluhur sebagai usaha mendekatkan diri kepada yang kuasa ( super natural power ). Pahatan – pahatan arca megalitik Pasemah menurut Haris Sukendar mempunyai fungsi yang sangat berbeda dengan arca menhir yang berkarakteristik statis di daerah gunung Kidul atau di Bondowoso ( Sukendar, 2003; 54 ). Bentuk penghormatan dalam pemujaan divisualisasikan oleh tangan – tangan terampil pada saat itu dengan menghadirkan pahatan-pahatan yang mencerminkan kekuatan dari pemimpin / tokoh seperti yang dapat kita jumpai pada arca megalitik di situs Belumai, situs Tinggi hari, situs Pulau Panggung, situs Tanjung Aro. ( Budi Wiyana, 1996 ; 7 – 8 ). Sedangkan pada arca-arca megalitik yang ditemukan hanya berupa kepala saja dapat dikaitkan dengan pengorbanan untuk memperkuat pendirian bangunan megalitik, hal ini mengingatkan juga dengan adanya aktivitas pemujaan dalam pemberian bekal kubur pada penguburan di situs Padang sepan, kabupaten Bengkulu Utara.

Hadirnya budaya megalitik Pasemah yang menonjolkan seni dalam bentuk keindahan, kemewahan, keagungan dan kegagahan telah dimunculkan dalam bentuk pahatan-pahatan pada arca-arca megalitik selain berfungsi sebagai sosiotehnik juga idiotehnik. Konsep pendirian megalitk tersebut dapat dikelompokan sbb:
Konsepsi sakral berkaitan erat dengan arwah nenek moyang masyarakat yang sangat kental dengan hal pemujaan kepada roh leluhur, dan konsepsi sakral yang berkaitan dengan kekuatan gaib, yang dapat dijumpai dalam bentuk pahatan muka manusia, dan pahatan-pahatan binatang.

Konsepsi semi sakral antara lain terwujud dalam pendirian bangunan-bangunan megalitik seperti yang tercermin pada lambang sifat raja seperti ayam jantan, buaya, kura-kura, bulan, lambang-lambang persatuan seperti: pilar, pola hias lingkaran persatuan, lambang kekuasaan seperti ujung tombak, segitiga, lambing pemimpin/ketua adat seperti arca megalitik .

Konsepsi profan, pendirian bangunan megalitik yang tercermin dari pola hias berbentuk geometris, seperti garis lurus, gelombang, belah ketupat.

PENUTUP
Keberadaan tinggalan megalitik di dataran tinggi Pasemah dengan warna, corak serta keunikan tersendiri telah mengindikasikan perilaku masayarakat yang hidup saat itu telah memiliki kebudayan yang tinggi, dan telah terjalin kerjasama yang sehat yang dituntut atas dasar kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Tradisi menghormati orang – orang yang dianggap berperan dalam masyarakat menjelma dalam upacara pemujaan nenek moyang dan pendirian bangunan-bangunan megalitik. Tidak terlepas dari aspek-aspek tersebut di atas tampaknya unsur seni juga menjadi pendorong para seniman untuk mengekspresikan karyanya yang nampak dari goresan-goresan pada dinding batu maupun arca-arca megalitik yang menonjolkan karya seni yang cukup tinggi.

Goa Indikat Belum “Terjamah”

Masih banyak kekayaan alam di Bumi Besemah yang belum terjamah dan digali potensi alamnya.

penemuan goa disekitar aliran Sungai Indikat ini terjadi pada Desember 2004 lalu. Bentuk dan tekstur goa indikat ini, bebatuan alam cadas dengan ketinggian sekitar 20 m bila dilihat dari depan dan masih dipenuhi semak belukar. Sementara ketinggian pintu masuk goa sekitar 2 m dan lebar permukaan pintu sekitar 1,5 m.

Didalam goa ini terdapat beberapa tingkatan dengan ketinggian sekitar 6 m, dan kedalaman 6 m. Namun dikarenakan keberadaanya sulit dijangkau oleh warga setempat, sehingga lambat laun goa ini terbengkalai. Diduga keberadaan goa tersebut masih tersimpan misteri.

Keberadaan goa yang disebut warga setempat goa indikat di kawasan Talang Kubangan, Dusun Kance Diwe, Kecamatan Dempo Selatan yang berada diatas aliran sungai indikat saat ini belum terjamah

“Penemuan goa ini dilakukan tidak sengaja, ketika kami sedang menggarap kebun. Dimana terlihat sebuah batu besar pada dinding perbukitan sekitar aliran sungai ini. Setelah diamati dan dilakukan penggalian, ternyata batu tersebut memiliki pintu, dan berbentuk goa.

apabila memasuki goa tersebut, hanya bisa ditempuh dengan jarak 8 m, dan selanjutnya tidak bisa ditempuh lagi atau sangat sulit dijangkau. Namun bila dilihat dengan kasat mata, dinding goa terlihat mengkilap bersih dan berbentuk tingkatan. Didalam goa juga banyak bersarang kekelawar.

“Kita belum bisa menelusuri lebih jauh keberadaan goa ini. Hanya bisa sampai dengan jarak sekitar 8 m saja. Dikarenakan apabila ingin masuk lebih jauh, haruslah merayap terlebih dahulu, dan dibutuhkan peralatan yang memadai seperti senter sebagai pengcahayaan. Selain itu didalam goa ini juga bersarang kekelawar. Sehingga untuk penelusuran lebih jauh belum bisa dilakukan

Camat Dempo Selatan Rahmad Madroh SSos melalui Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Yose Rizal didampingi Lurah Kance Diwe Zulkifli BSc mengungkapkan, pihaknya membenarkan adanya penemuan goa yang berada disekitar aliran Sungai Indikat di daerah Talang Kubangan, Dusun Bandar Jaya tersebut.

“Sudah kita tinjau langsung keberadan goa tersebut. Memang jarak tempuh ke lokasi goa ini cukup jauh, dengan menelusuri dari perbukitan dan kecuraman jurang cukup terjal. Namun keberadaan goa ini perlunya digali dan dikembang lagi. Karena penemuan ini merupakan salah satu asset daerah yang patut dikembangkan, dan masih belum terjamah keberadaanya,” ujarnya.

Jarak dari pusat Kota Pagaralam menuju kawasan Talang Kubangan, Dusun Bandar Jaya ditempuh sekitar 25 Km, dengan waktu 45 menit. Sementara untuk ke lokasi goa indikat dari dusun tersebut cukup ditempuh dengan waktu sekitar 90 menit, menelusuri jalan setapak perbukitan, dan medan yang terjal

Pagaralam Diusulkan Jadi Daerah Cagar Budaya

Ilustrasi PAGARALAM, SUMSEL.com — Banyak temuan peninggalan bersejarah dari zaman megalitik ribuan tahun lalu di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, yang jumlahnya mencapai ribuan menjadi bahan pertimbangan pengusulan kawasan itu sebagai daerah cagar budaya.

Informasi dari pemkot di Pagaralam, Sabtu (20/2/2010), menunjukkan bahwa dalam pertemuan anggota Komisi X DPR RI dengan jajaran Pemkot Pagaralam, mereka menyampaikan masukan untuk mengkaji dalam merevisi UU tentang Cagar Budaya, termasuk mempertimbangkan Pagaralam masuk sebagai salah satu daerah tersebut.

Anggota Komisi X DPR RI Juhaini Alie, Gede Pasa Suardika, Harbiah Salahuddin, Selina Gita, dan Raihan Iskandar beserta rombongan Ditjen Pariwisata dan BP3 Jambi beberapa hari lalu melakukan kunjungan ke sejumlah situs yang terdapat di Pagaralam.

Wali Kota Pagaralam Djazuli Kuris mengatakan, cukup banyak peninggalan sejarah yang dimiliki daerah ini tersebar di lima kecamatan wilayahnya.

Bahkan yang sudah terungkap, baik melalui mimpi maupun penemuan biasa, sudah cukup banyak. Menurut dia, semestinya hal itu akan menjadi kajian penting bila daerah Besemah dimasukkan dalam UU Cagar Budaya itu.

“Peninggalan bersejarah bukan hanya menjadi aset bagi daerah, tapi hendaknya bisa masuk aset nasional yang tidak akan habis sepanjang masa. Namun, perlu dukungan pemerintah pusat dalam pendanaan pemeliharaan dan pelestariannya,” ujar dia.

Bukan hanya peninggalan pada masa kerajaan, melainkan bahkan benda yang umurnya sudah 4.000 tahun sebelum Masehi juga cukup banyak.

Dia menyebutkan, saat ini yang sudah ditemukan berupa arca, rumah batu, lesung, lumpang, menhir, dolmen, dan masih banyak situs lainnya.

“Aset budaya yang banyak ditemukan di Pagaralam ini tentunya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi DPR RI untuk memasukkan Pagaralam menjadi kawasan cagar budaya,” kata dia.

“Melalui pertemuan dan mencari masukan dengan berbagai elemen masyarakat di Pagaralam, hal itu akan menjadi pertimbangan dalam membahas revisi UU Cagar Budaya, termasuk mengkaji sejumlah daerah di Sumsel yang banyak peninggalan sejarahnya,” kata Ketua Rombongan DPR RI dari Komisi X, Juhaini Alie, dalam pertemuan dengan Pemkot Pagaralam itu.

Dia menyatakan, peninggalan bersejarah yang merupakan aset bernilai cukup tinggi tidak akan habis sepanjang masa. Bila dikelola dengan baik, hal itu akan menjadi penghasil uang.

Pagaralam, Lintasan Megalitikum Gelombang Kedua

Dua Situs Kubur Batu Berusia 5000 Tahun Ditemukan di Lahat
JAKARTA, KOMPAS.com — Tak bisa dimungkiri, Pagaralam adalah wilayah yang memiliki peradaban tua. Penemuan puluhan kubur batu belakangan ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut adalah sebuah area lintasan zaman megalitikum.

Menurut Von Heine Geldern, kubur batu termasuk kebudayaan megalitikum gelombang kedua atau disebut juga Megalit Muda yang menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1.000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalit gelombang ini adalah peti kubur batu, dolmen, waruga sarkofagus, dan arca-arca dinamis.

Peti kubur adalah peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar. Kubur batu dibuat dari lempengan atau papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya juga berasal dari papan batu.

Selain Pagaralam dan Lahat, daerah penemuan peti kubur adalah Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta), dan Cepu (Jawa Timur). Di dalam kubur batu tersebut juga ditemukan rangka manusia yang sudah rusak, alat-alat perunggu dan besi, serta manik-manik. Dari penjelasan tentang peti kubur, tentu dapat ketahui persamaan antara peti kubur dan sarkofagus, yang keduanya merupakan tempat menyimpan mayat disertai bekal kuburnya.

Selama ini, Pagaralam memang telah dikenal dengan peninggalan zaman megalitikum. Hal ini terbukti dengan penemuan arca-arca yang tersebar di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, seperti Karangindah, Tinggiari Gumai, Tanjungsirih, Padang Gumay, Pagaralam, Tebatsementur (Tanjungtebat), Tanjung Menang-Tengahpadang, Tanjungtebat, Pematang, Ayik Dingin, Tanjungberingin, Geramat Mulak Ulu, Tebingtinggi-Lubukbuntak, Nanding, Batugajah (Kutaghaye Lame), Pulaupanggung (Sekendal), Gunungmigang, Tegurwangi, dan Airpur.

Penemuan yang paling menarik adalah megalitik yang dinamakan Batugajah, yakni sebongkah batu berbentuk telur, berukuran panjang 2,17 m, dan dipahat pada seluruh permukaannya. Bentuk batunya yang asli hampir tidak diubah, sedangkan pemahatan obyek yang dimaksud disesuaikan dengan bentuk batunya. Namun, plastisitas pahatannya tampak indah sekali.

Batu dipahat dalam wujud seekor gajah yang sedang melahirkan seekor binatang antara gajah dan babi-rusa, sedangkan pada kedua belah sisinya dipahatkan dua orang laki-laki. Laki-laki sisi kiri gajah berjongkok sambil memegang telinga gajah, kepalanya dipalingkan ke belakang dan bertopi. Perhiasan berbentuk kalung besar yang melingkar pada lehernya. Begitu pula pada betis, di sana tampak tujuh gelang. Pada ikat pinggang yang lebar tampak pedang berhulu panjang, sedangkan sebuah nekara tergantung pada bahunya. Pada sisi lain (sisi kakan gajah) dipahatkan seorang laki-laki juga, hanya tidak memakai pedang. Pada pergelangan tangan kanan laki-laki ini terdapat gelang yang tebal. Adapun pada betis tampak 10 gelang kaki.

Temuan batu gajah dapat membatu usaha penentuan umur secara relatif dengan gambar nekara itu sebagai petunjuk yang kuat, selain petunjuk-petunjuk lain seperti pedang yang mirip dengan belati Dong Son (Kherti, 1953 : 30), serta benda-benda hasil penggalian yang berupa perunggu (besemah, gangse) dan manik-manik. Dari petunjuk-petunjuk di atas, para ahli berkesimpulan bahwa budaya megalitik di Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, berlangsung pada masa perundagian. Pada masa ini, teknik pembuatan benda logam mulai berkembang.

Sebuah nekara juga dipahatkan pada arca dari Airpuar. Arca ini melukiskan dua orang prajurit yang berhadap-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan orang yang satunya memegang tanduknya. Kepala serigala (anjing) tampak di bawah nekara perunggu tersebut.

Kantor berita Antara menulis, belum lama ini sedikitnya 15 kuburan batu telah ditemukan di Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan yang lokasinya tersebar di lima kecamatan.

Berdasarkan informasi dari lokasi penemuan kubur batu itu, Senin, lokasi penemuan rumah batu tersebut beberapa di antaranya berada di Kecamatan Pagaralam Utara, dua di Kecamatan Dempo Utara, dan satu di Kecamatan Dempo Tengah wilayah Kota Pagaralam.

Untuk wilayah Lahat, yaitu tujuh di Kecamatan Pajarbulan, satu di Kecamatan Jarai, dan dua kubur batu di Desa Talang Pagar Agung, Kecamatan Pajarbulan.

Penemuan kuburan batu itu, menurut informasi warga setempat, banyak terjadi antara lain melalui proses mimpi sehingga setelah itu dilakukan penggalian yang dilakukan penduduk setempat.

Aset cagar budaya ini semuanya masih belum dikelola pemerintah dan penduduk setempat yang merupakan pemilik lahan tempat ditemukannya bangunan bersejarah tersebut.

“Untuk saat ini, semua kuburan batu yang sudah ditemukan langsung diteliti dan didata untuk mengetahui dengan pasti jenis cagar budaya tersebut,” kata Akhmad Rifai, petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) dengan wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Babel.

Dia mengatakan, memang ada beberapa jenis peninggalan purbakala yang sudah ditemukan di wilayah Pagaralam dan Lahat, yaitu megalit, kuburan batu, tempayan, arca, lumpang batu, dan beberapa jenis benda bersejarah yang diperkirakan berusia ratusan hingga ribuan tahun.

“Kami sudah melakukan pendataan penemuan kuburan batu, seperti di Dusun Tanjung Aro 2, Dusun Tegurwangi 2, Dusun Belumai 1 untuk Pagaralam, sedangkan wilayah Lahat di Desa Kota Raya Lembak 7, Desa Gunung Megang 1,” ujarnya.

Akhmad mengatakan, setelah pendataan, semua cagar budaya tersebut langsung dilindungi BP3 Jambi. Mereka lalu langsung mengangkat juru kunci sebagai petugas pemeliharaann cagar budaya ini.

“Kuburan batu atau situs yang ditemukan di Desa Talang Pagaragung, Kecamatan Pajarbulan, belum dimasukkan dalam salah satu benda bersejarah yang harus dilindungi karena baru ditemukan dan masih dalam proses penelitian tim dari arkeologi BP3 Jambi,” katanya.

Ia mengatakan, penelitian hanya bersifat menentukan umur, masa, dan jenis benda yang terdapat di dalam bangunan tersebut saat penggalian.

“Kami sudah melakukan penelitian. Bentuk bangunan bukan tempat pemujaan atau langgar, melainkan kuburan batu sama dengan yang sudah lebih dulu ditemukan di daerah lainnya, baik di Kota Pagaralam maupun wilayah Kabupaten Lahat,”

Mau lebih lengkap Download Aja

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sejarah Propensi Bengkulu

Sejarah Awal Provinsi Bengkulu dibentuk tanggal 12 September 1967. Meskipun pembentukan provinsi ini tidak dari awal kemerdekaan, bukan berarti daerah ini tidak berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Bung Karno sendiri pernah dibuang oleh Belanda ke daerah ini.
Sejarah Bengkulu sebenarnya sudah cukup panjang. Sejak era Majapahit, Bengkulu yang ketika itu bernama Sungai Serut sudah eksis dan menjalin hubungan dengan Kerajaan yang berpusat di Jawa Timur tersebut. Kerajaan Majapahit sering mengirimkan Biku, dimana sebagian dari biku-biku tersebut akhirnya dinobatkan menjadi pemimpin salah atu suku di sana, yaitu suku bangsa Rejang. Pengaruh Majapahit berlangsung sampai Islam datang dan dianut oleh sebagian besar rakyat Bengkulu.
Pada waktu Portugis merebut Malaka tahun 1511, para pedagang Islam mengalihkan jalur perdagangannya yang sebelumnya menggunakan Selat Malaka dialihkan melalui pantai barat Sumatera dan Selat Sunda. Karena peralihan itu, Pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa bertambah ramai. Untuk daerah Bengkulu sendiri, peralihan tersebut membawa berkah, pelabuhan-pelabuhan nelayan di sepanjang pantai Bengkulu, seperti Muko-muko, Selebar, Seluma, Manna, Bintuhan, dan Krui menjadi berkembang.
Pada waktu Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin, tahun 1552-1570, Bengkulu berada di bawah pengaruh Banten. Pengaruh tersebut juga diikuti oleh penyebaran agama Islam.
Di daerah Bengkulu ini kekuatan Kesultanan Banten kemudian berhadap-hadapan dengan Kesultanan Aceh. Aceh yang juga melaksanakan kebijakan yang ekspansif, telah berhasil memperluas kekuasaannya di wilayah Bengkulu, yaitu di daerah sebelah utara Teluk Ketahun, sementara sebelah selatannya sudah termasuk wilayah kekuasaan Kesultanan Banten. Karena kedua pihak tidak menghendaki terjadinya pertempuran diantara sesama negara Islam, mereka kemudian menjalin perdamaian dan persahabatan. Sultan Aceh kemudian menjodohkan seorang putri Indrapura dengan Sultan Banten.
Tahun 1685, Inggris mulai memasuki Bengkulu. Mereka kemudian menjalin hubungan dagang dan membangun gudang lada yang dinamakan Fort York. Tahun 1714, Inggris mulai membangun kekuatan di Kota Bengkulu, yaitu, membangun Benteng Fort Marlborough. Pendirian benteng tersebut mendapat rintangan dari Raja Selebar Pangeran Nata Dirja. Inggris kemudian berniat mengenyahkan Raja Selebar. Mereka membuat suatu jamuan makan dan mengundang Raja Selebar. Di tengah jamuan tersebut, mereka membunuh Raja Selebar, Pangeran Nata Dirja.
Akibat pembunuhan tersebut, hubungan antara Inggris dan Bengkulu yang tadinya relatif baik menjadi buruk. Akhirnya tahun 1719, putra Pangeran Nata Dirja beserta pasukan dan penduduk daerah tersebut melakukan serangan terhadap Inggris dan berhasil menduduki Fort Marlborough. Perlawanan terhadap Inggris ternyata berlangsung pula di bagian lain Bengkulu, seperti perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Mansyur dan Sultan Sulaiman di daerah Muko-muko dan Bantal. Karena perlawanan rakyat yang semakin sengit ini, akhirnya Inggri meninggalkan Bengkulu tahun 1719. Namun kepergian Inggris dari tanah Bengkulu tidak selamanya. Tahun 1742, mereka datang dan kembali menjalin hubungan dagang dengan pengusaha Bengkulu.
Berdasarkan pada traktat London 1824, Inggris akhirnya menyerahkan Bengkulu kepada pemerintah Hindia-Belanda. Tahun 1838, Belanda mulai menjalankan administrasi pemerintahan di Bengkulu. Belanda kemudian mengatur dan menguasai seluruh penghasilan dan penjualan hasil bumi Bengkulu, terutama lada. Akibatnya, produksi berbagai hasil bumi semakin menurun. Selain itu, Belanda memberlakukan kerja paksa untuk mengerjakan berbagai pembangunan jalan, pelabuhan, serta untuk menanam kopi.
Kekuasaan Belanda berakhir tanggal 8 Februari 1942, ketika tentara Jepang tiba di Bengkulu. Mulai hari itu, Bengkulu berada di bawah kekuasaan Jepang. Di era penjajahan Jepang ini, rakyat semakin menderita. Rakyat ditindas dan diperas. Berbagai hasil bumi semuanya dirampas untuk kepentingan Jepang. Selain itu banyak rakyat yang menjadi romusha ke Pulau Enggano. Di Pulai ini, Jepang berencana membangun pertahanan yang kuat.
Penjajahan Jepang ini berakhir dengan dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945. Namun berita proklamasi kemerdekaan tersebut baru sampai ke Bengkulu tanggal 3 September 1945. Bendera Merah Putih mulai berkibar secara resmi di Bengkulu tanggal 11 Oktober 1945.
Kehidupan rakyat pasca kemerdekaan tidak berlangsung lancar. Hal ini karena adanya niat Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Belanda memasuki dan menduduki Bengkulu dalam aksi militernya yang kedua, awal tahun 1949. Pendudukan ini berlangsung hingga akhir tahun. Sejak saat itu, Bengkulu mulai disibukkan dengan urusan-urusan dan masalah yang muncul dari dalam negeri sendiri. Rongrongan dari luar negeri sudah berakhir.
Aseli Bengkulu? Atau mau tahu Bengkulu lebih banyak? Hhmm.. ga ada salahnya kan klo kita mulai dengan mencari tahu bagaimana sejarah Bengkulu itu?
Propinsi Bengkulu berpenduduk asli multi etnik, diantaranya suku Melayu Bengkulu, Rejang, Lembak, Serawai, Enggano, Kaur, Pasemah, Mukomuko, dan Pekal. Sebagaimana wilayah lainnya, Bengkulu juga memiliki beberapa kerajaan kecil, yang kemudian memiliki pengaruh terhadap perjalanan Sejarah Nasional Indonesia.
Bentuk kerajaan di Bengkulu merupakan kerajaan kesukuan, yang terbentuk karena kesatuan satu atau beberapa suku yang mempunyai adat yang sama. Kerajaan2 ini pada umumnya terdapat di daerah pesisir dan berada di tepi atau muara sungai. Oleh karena itu, nama kerajaannya sering diambil dari nama sungai di dekatnya. Sedangkan nama kerajaan yang terapat di pedalaman diambil dari nama suku atau gabungan suku.
Contoh Kerajaan-kerajaan yang terdapat di Bengkulu antara lain : Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sungai Itam, Kerajaan Selebar, Kerajaan Anak Sungai, dan Kerajaan Empat Petulai
Kerajaan yang terdapat di daerah pesisir mulai berkembang pada awal abad XVI. Setelah jatuhnya Kerajaan Malaka ke tangan Portugis 1511, para pedagang yang ingin ke Jawa menglihkan jalur perdagangannya dari Pantai Timur Sumatra ke Pantai Barat Sumatra mulai dari Aceh, Barus, Priaman, Indrapura, Ketahun, Selebar, Lampung, Banten, dst. Perubahan jalur perdagangan inilah yang membuat para pedagang mengetahui bahwa wilayah-wilayah ini menghasilkan rempah-rempah, terutama lada.
Jaman Pra Sejarah
Hampir sama dengan wilayah Indonesia lainnya, di wilayah Bengkulu Utara dan Bengkulu Selatan ditemukan Dolmen, Menhir, Sarkofagus, Keranda Batu, Belincong, dan Kapak Batu.
Jaman Hindu Budha
Pada jaman ini tidak begitu jelas. Hanya diasumsikan dengan peninggalan Trisakti yang ada di Suban Air Panas, berupa Lingga, Yoni, dan Batu Menangis.
Jaman Kerajaan
Kerajaan tertua di Bengkulu Pesisir adalah Kerajaan Sungai Serut. Raja pertamanya bernama Ratu Agung. Setelah kehancuran Kerajaan Sungai Serut, rakyat Sungai Serut yang dipimpin oleh pemimpin2 Rejang Pedalaman yang dinamakan Dipati Tiang Empat. Kebingungan mencari pengganti pemimpin kerajaan Sungai Serut diantara para Depati, mereka meminta petunjuk ke raja Pagarruyung untuk memecahkan masalah ini. Karena kebijaksanaan utusan raja Pagarruyung, Maharaja Sakti diangkat menjadi raja di Kerajaan yang baru didirikan atas pesan raja Pagarruyung, yaitu Kerajaan Sungai Lemau.
Setelah itu, seorang Raja Sungai Lemau yang bernama Baginda Sebayam mengangkat Senggana Pati sebagai menantu, dan memberinya sebagian wilayah Sungai Lemau, yang pada akhirnya mendirikan kerajaan Sungai Itam.
Selain 3 kerajaan tadi, juga terdapat Kerajaan Selebar yang bermula dari satu kerajaan kecil bernama Jenggalo. Seorang Rajanya yang terkenal adalah Rangga Janu.
Jaman VOC – EIC
Pada tahun 1616, Jan Pieterzoon Coen dari pihak VOC mulai mengetahui keberadaan lada yang melimpah di Bengkulu. Tahun 1660 Belanda membuat perjanjian kontrak dagang dengan pemuka Selebar. Perjanjian Belanda-Banten pada tahun 1680 membuat EIC (Inggris) harus angkat kaki dari Banten. EIC kemudian membuat perjanjian perdagangan dengan kepala-kepala adat sekitar Bengkulu, yang pada saat itu tidak merasa terikat dengan kerajaan Banten. Dibawah kekuasaan Inggris, dibangunlah sebuah benteng terbesar kedua setelah di India, Benteng Fort Marlborough (1714-1719). Pada masa Inggris juga terdapat satu kebijakan pada masa pemerintahan Sir Thomas Stanford Rafless (1818-1822), dimana semua bupati/raja Bengkulu dimasukkan ke dalam pegawai pemerintah dan digaji pemerintah. Akibat perjanjian London (1824) antara Inggris-Belanda, Bengkulu kemudian ditukar dengan Singapura.
Jaman Belanda
Pada tahun 1826 Bengkulu baru dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Hindia Belanda karena merupakan lahan yang cukup subur. Pada tahun 1833, penetapan sistem tanam paksa ditolak oleh masyarakat Bengkulu, dan terjadilah pembunuhan terhadap Asisten Residen Knorle sehingga kebijakan tanam paksa di Bengkulu ditunda atas instruksi Gubernur Jendral Van Den Bosch. Pada masa Belanda ini terlaksana program transmigrasi di Kemumu, Kabawetan, Kap.Bogor, dan Curup. Selain itu, hasil tambang yang berada di wilayah Bengkulu juga mulai dieksploitasi.
Pada akhir masa Belanda (1938-1942), Ir.Soekarno diasingkan di Bengkulu oleh Belanda. Selama di Bengkulu, Ia sempat merancang sebuah Masjid Jamik, rumah, beberapa alat rumah tangga, dan sempat bermain dalam sandiwara Montecarlo.
Jaman Jepang
Pada Jaman kedudukan Jepang, Bengkulu mengalami masa kehidupan sosial yang terpuruk, hanya masalah ketentaraan saja yang masih baik, dimana diajarkan tentang loyalitas yang tinggi kepada Negara dan bangsa. Pada masa jepang ini juga dibangun industry persenjataan di Pondok Besi dan di galangan kapal Pelabuhan Lama.
Jaman Kemerdekaan
Berita kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 45 baru diterima secara resmi oleh kantor PTT Bengkulu pada tanggal 3 Oktober 1945 (ge ge ge lemot banget, yak? ), dan segera dikibarkan bendera merah putih di kantor tersebut. Sejak tahun 1946 Bengkulu masuk ke wilayah karesidenan Palembang, dan pada tahun 1968 Bengkulu resmi berdiri sebagai propinsi sendiri, yang dipimpin pertama kali oleh Ali Amin, SH.
Mau lebih lengkap Downlod
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dampak Kebijakan Pemekaran Wilayah Di Kaur

Dampak Pemekaran Wilayah Kaur Implikasi adanya otonomi daerah dan daerah otonom yang berdasarkan asas desentralisasi telah memberikan dampak positif bagi daerah. Salah satu dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya pemekaran daerah provinsi maupun kabupaten/kota yang hampir terjadi diseluruh Indonesia. Salah satu daerah hasil dari pemekaran wilayah adalah Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu.

Dampak dari pemekaran provinsi dan kabupaten/kota, telah banyak terbentuk kecamatan dan kelurahan/desa definitif yang baru. Tujuannya adalah agar pelayanan pemerintah kepada masyarakat dapat lebih efektif dan efisien, serta diharapkan mempercepat pelaksanaan pembangunan.[1] Oleh karena itu, di samping melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerintah juga perlu memprioritaskan pemerataan pembangunan hingga ke daerah terpencil seperti di Kabupaten Kaur yang masih tergolong kabupaten tertinggal itu.[2]

Kabupaten Kaur terbentuk diawali dengan dikeluarkannya Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 tentang Pembantukan Daerah Otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Pembentukan Kabupaten Kaur juga sesuai dengan Undang-Undang 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian ditetapkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Kaur.

Kabupaten Kaur terbentuk dengan melihat perkembangan kemampuan ekonomi, potensi daerah, kondisi sosial budaya, kondisi sosial politik, jumlah penduduk dan luas daerah yang dimiliki. Dengan terbentuknya kabupaten baru ini, diharapkan akan dapat mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah.

Sebagai kabupaten baru yang tumbuh dimasa otonomi daerah, Kabupaten Kaur memiliki kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri. Kewenangan yang dimiliki adalah mencakup seluruh kewenangan bidang pemerintahan yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang dibentuk melalui hasil Pemilihan Umum tahun 2004, pemilihan pejabat Bupati dan Wakil Bupati diangkat oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden berdasarkan usul Gubernur Bengkulu dengan masa jabatan 1 tahun. Untuk kelancaran penyelenggaraan pemerintahan, Gubernur Bengkulu, Bupati Bengkulu Selatan diharuskan menginventarisasi, mengatur dan melaksanakan penyerahan kepada Kabupaten Kaur hal-hal yang berkaitan dengan kepegawaian, barang/kekayaan daerah, BUMD Kabupaten Bengkulu Selatan, utang-piutang, dan dokumen-dokumen yang diperlukan yang harus diselesaikan paling lambat dalam waktu 1 tahun sejak peresmian dan pelantikan pejabat Bupati. Dana yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat dibebankan kepada Kabupaten Bengkulu Selatan sampai dengan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten baru Kaur.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 efektif berlaku sejak 25 Mei 2003. Dengan demikian, untuk penyelanggaraan pemerintahan Kabupaten yang baru tersebut diperlukan modal awal baik dalam bentuk sarana prasarana, personil, maupun pembiayaannya. Hal ini akan berdampak langsung kepada Pemerintah Kabupaten Kaur sebagai kabupaten baru, terutama dalam aspek sumber daya manusia khususnya sumber daya aparatur daerah.

Kabupaten Kaur pasca memisahkan diri dari Kabupaten Bengkulu Selatan dan sebagai kabupaten baru, mengalami berbagai kendala terutama di bidang sumber daya aparatur Pemerintahan Daerah. Banyak kekosongan dan kekurangan pejabat yang kompeten untuk mengisinya, Pemerintah Daerah Kabupaten Kaur banyak mengangkat tenaga fungsional untuk mengisi kekosongangan pejabat struktural yang ada. Bahkan ada guru yang diangkat sebagai Kepala Dinas. Padahal Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia pada saat itu, Feisal Tamin, telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: SE/15/M.PAN/4/2004, yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 April 2004 yang ditujukan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota diseluruh Indonesia, yang berisi Larangan Pengalihan PNS dari jabatan guru ke jabatan non-guru. Pengalihan PNS dari jabatan guru ke jabatan lain tersebut akan menambah kekurangan jumlah guru yang ada. Di sisi lain dari segi kompetensi, guru dinilai tidak mempunyai kompetensi untuk menduduki jabatan struktural dan hal ini akan berpengaruh pada kinerja organisasi.

Download

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sejarah Suku Dayak

Suku dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan. Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak.

Kelompok Suku Dayak, terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.

Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar,seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.

Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.

Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya. Nama “Dayak” atau “Daya” adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya.

Kalimantan Tengah mempunyai problem etnisitas yang sangat berbeda di banding Kalimantan Barat. Mayoritas ethnis yang mendiami Kalimantan Tengah adalah ethnis Dayak, yang terbesar suku Dayak Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Dusun, dsb. Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif. Dayak yang beragama Islam di Kalimantan Tengah, tetap mempertahankan ethnisnya Dayak, demikian juga bagi Dayak yang masuk agama Kristen. Agama asli suku Dayak di Kalimantan Tengah adalah Kaharingan, yang merupakan agama asli yang lahir dari budaya setempat sebelum bangsa Indonesia mengenal agama pertama yakni Hindu. Karena Hindu telah meyebar luas di dunia terutama Indonesia dan lebih dikenal luas, jika dibandingkan dengan agama suku Dayak, maka Agama Kaharingan dikategorikan ke cabang agama Hindu.

Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi cultural atau perpindahan suatu culture religius bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak,Melayu dan Tiongkok. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari gujarab beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang di masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan. Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.

masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah , Raja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat),Jobata,Apet Kuyan’gh(Dayak Mali) dan lain-lain. Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman.

adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar. (Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu. Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) di masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu.banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah(lewat perkawinan dengan suku melayu) ke Agama Islam,agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya.

Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh orang melayu yang di percayakan masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil ) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya, dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut. Namun ada kalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya, demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan.

Masyarakat Dayak yang pindah ke agama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan, atau masuk senganan/masuk Laut, dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu. Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya maupun pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya, sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka segani.

Download

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Adat Perkawinan Suku Dayak Krio

Ada Empat perkawinan. Yakni pajadi
banyak, Pajadi iyang banyak, pajadi mantir dan pajadi kampakng. Menurut Andreas
Deka, seorang tetua Dayak Krio di Pontianak, dalam pajadi banyak selalu didahului
adat minta’ noda (pertunangan). Sedangkan pajadi mantir dan pajadi kampakng tidak
ada adat pertunangan. Minta’ noda artinya memberikan barang tanda bukti untuk
bertunangan. Barang itu berupa sepasang gelang perak dan sehelai kain batik dan
diserahkan ke orang tau si gadis. Barang ini diserahkan dua orang yang disebut suruh
harakng sapat santara (perantara) ke rumah calon mempelai wanita.
Tiga hari setelah menerima pinangan, ayah si gadis datang ke rumah orang tua si
lelaki untuk mengetehaui apakah pinangan sudah disetujui orang tua atau belum. Jika
memang orang tua lelaki sudah setuju, maka antara kedua orang tua bermufakat kapan
anaknya ditunangkan.

Adat pertunangan dihadiri pemuka masyarakat dan orang sekampung. Adat
pertunangannya adalah 4 buah tempayan tuak (2 buah dari laki laki dan 2 buah dari
perempuan) serta 4 pangkat nulakng (8 buah piring berisi beras), 2 dari lelaki dan 2
dari perempuan. Tiap pangkat nulakng diatasnya diletakkan satu paha ayam. Sepasang
gelang perak dan sehelai kain batik pinangan barang suruhan juga ditunjukkan.
Inti acara pertunangan adalah menyatakan di hadapan orang banyak bahwa si gadis
dan si lelaki saling akan menikah dan agar tidak diganggu lagi; serta perjodohan
mereka atas kesadaran dan saling mencintai. Berikut ini adalah penjelasan ketiga jenis
perkawinan Dayak Krio seperti dijelaskan Andreas Deka kepada KR.
Pajadi Banyak

Pajadi banyak adalah adat perkawinan yang normal dan utuh. Materi adat dari pihak
lelaki adalah 4 tempayan tuak, seekor babi dan seekor ayam, 2 pangkat nulakng (4
piring berisi beras), 8 lasa adat pasalitn(8 helai kain batik), 8 poku buat rantai perak
adat paloka golakng (seukura sepoku panjang 8cm), sebuah tajau roga tubuh dan
sebuah mangkuk pajanji, 16 poku buat panait (adat perempuan pertama kali naik
kerumh suaminya) dan sebuah mangkuk pajanji.
Materi adat dari pihak perempuan adalah 4 tempayan tuak, 2 pangkat nulakng
1 ditumpa paha ayam, 4 ekor ayam, sebuah tempayan tuak(untuk adat membunyikan
gamal, seekor ayam dan topukng tawar.
Minta’ Pajadi ka Iyang Banyak

Adat perkawinan ini dilakukan karena kedua pihak calon penganten ekonominya
kurang mampu. Adatnya sebagai berikut: sepangkat nulakng perjanjian, 2 pangkat
nulakng sangkolatn (1 pangkat dari laki-laki dan satu pangkat dari perempuan, 6 buah
tempayan tuak(3 laki-laki dan 3 perempuan), 7ekor ayam (4 perempuan dan 3 laki-
laki), 8 lasa.pesalitn (8 helai kain batik), 3 pangkat nukang (1 dari perempuan dan 3
dari laki-laki); seekor babi dari laki-laki; sebuah tapayatn tajo (tajau) dari laki-laki;
sebuah mangkuk pajanji.
Pajadi Mantir
Perkawinan ini adalah antara janda dan duda yang dijodohkan mantir (kayu saborakng
paut kasaborakng).Adatnya sebagai berikut: 6 buah tempayan tuak( 3 dari laki-laki
dan 3 dari perempuan); 16 poku buat ba agah (ngomong); 6 ekor ayam(3 dari laki-laki
dan 3 dari perempuan); seekor babi dari laki-laki; 8 lasa pasalitn (8 helai kain batik)
dari laki-laki. Kain pasalitn ini untuk dibagikan dengan kakek atau nenek sehelai dan
untuk kakak ipar tertua sehelai(jika ada) dan 3 helai untuk mertua dan 3 helai lagi
untuk orang tua; sebuah tempayan tajau roga tubuh; sebuah mangkuk pajanji; 4
pangkat nulakng (8 buah piring berisi beras) 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan.
Pajadi Kampakng
Pajadi kampakng adalah perkawinan antara pasangan yang sudah hamil sebelum
menikah. Seperti yang KR ikuti dalam suatu upacara perkawinan Dayak Krio di
Pontianak, adatnya ada dua, yakni adat kampakng dan adat pajadi. Pajadi kampakng
sebagai berikut. (1) 4 buah tempayan tuak (2, dari laki-laki dan 2 dari perempuan (2)
seekor babi adat kampakng dari laki-laki (3) 4 ekor ayam dari perempuan (4) 2 kali
onam bolas buat rante (rantai perak) dari lelaki/perempuan (5)10 poku buat pocah
(berupa piring atau mangkuk) dari lelaki dan perempuan (6) 4 buah tempayan tuak (2
laki-laki dan 2 perempuan (7) 4 pangkat nulakng (2 laki-laki dan 2 dari perempuan)
2 tiap pangkat ditumpa paha ayam atau mangkuk. (8). 16 bolas buat perjanjian menjaga
sekedar melepaskan adat (terpaksa) yang sebenarnya bukan jodoh sejati.

Adat pajadi (perkawinan) sebagai berikut. (1) 4 buah tempayan tuak 2 dari lelaki-laki
dan 2 dari perempuan (2) 4 pangkat nulakng pajadi 2 lelaki dan 2 perempuan ditumpa
paha ayam (3)seekor babi pajadi dari laki laki dan 3 ekor ayam dari perempuan (4) 8
lasa kaitn pasalitn dari laki laki–8 helai kain batik (5) 16 poku buat panait dari laki-
laki (6) 8 poku buat paloka golakng dari laki- laki (7)sebuah tempayan tajau adat roga
tubuh dari laki-laki (8)sebuah mangkuk pajanji dari laki laki. Setelah adat dikeluarkan
barulah dilanjutkan dengan adat perkawinan.

Hukum Adat Perkawinan Dayak Lara
Perkawinan adalah peristiwa yang terjadi sekali seumur hidup. Prinsip ini umumnya
dianut oleh sebagian besar suku Dayak. Praktek perceraian dan poligami menjadi
terlarang. Prinsip ini juga dianut oleh Dayak Lara di Kab. Bengkayang. Budaya
hormat terhadap lembaga perkawinan dijunjung tinggi. Karenanya pelaku penodaan
terhadap perkawinan akan dihukum adat.

Hukum adat Dayak Lara menggunakan ukuran tahil berupa benda hidup seperti babi
maupun benda mati berupa material tertentu seperti piring, mangkok, gong, tawak dan
lain-lain. Peraga adat hidup satu tahil berupa talam, tawak, kakanong. Sedangkan
peraga adat hidup satu tahil tangah untuk adat hidup peraga adatnya berupa; tempayan
menyanyi, gong wayang, tempayan karokot, 8 buah dau, sebuah lela, senapan lantak,
pahar, gong dan tempayang jampa. Untuk adat meninggal dunia (mati) hitungannya
satu tahil dengan peraga adat hidup. Sementara adat mati dua tahil dengan peraga adat
yang sama. Untuk ukuran hukuman dua tahil hanya ada pada adat hidup dengan
peraga adat tempayan jampa.

Tingkat tahil tertinggi adalah 40 tahil. Hukuman di bawah tiga tahil belum
memerlukan materi hukuman berupa seekor babi. Tapi bila sudah dijatuhi tiga tahil
tangah dan seterusnya selalu diikuti dengan babi yang besarnya menurut tahil yang
ditentukan.

3 Perkawinan Dayak Lara baru akan sah bila kedua belah pihak mengucapkan janji di
depan pengurus adat (temenggung) serta ahli warisnya. Saat itu pengurus adat
memberikan wejangan kepada kedua mempelai sebagai bekal mengarungi bahtera
rumah tangga.

Suami-isteri menurut adat dituntut untuk saling memberi dan menerima. Apabila tali
perkawinan putus karena salah satu pihak lalai memberikan nafkah bathin maka
pelakunya akan dijatuhi hukuman tiga tahil maringa (pulang ke tempat asal).
Pelakunya harus membayar peraga adat berupa sebuah Tempayan jampa, dan seekor
babi.

Larangan perceraian mutlak terjadi. Tapi bila pekawinan sudah tak dapat
dipertahankan maka mereka yang meminta perkawinan akan dikenakan hukuman
adat. Bila yang meminta putusnya hubungannya adalah perempuan, maka ia dijatuhi
hukuman tujuh tahil tangah maringa. Bila yang meminta putus hubungan perkawinan
adalah Laki-laki, maka hukuman adat yang dijatuhkan lebih rendah yakni enam tahil
tangah maringa. Dalam bahasa Dayak Lara kejadian ini disebut karopak subakng.
Namun bila diketahui perkawinan putus karena ingin menikahi orang lain maka
hukuman adatnya bertambah menjadi tujuh tahil tangah maringa, ditambah siam.

Bila perkawianan putus, tidak serta merta mereka dapat menikah lagi. Kedua belah
pihak tidak boleh menikah selama setahun. Kalau isteri yang diceraikan dalam
keadaan hamil maka suami tidak boleh menikah sampai saat mantan isterinya
melahirkan anak. Suaminya juga dihukum adat padi sekoyan (400 Kg) dan sebuah
siam maringa. Kasus adat ini disebut layo lalakng.

Bila salah satu pasangan meninggal dunia maka larangan tidak boleh menikah
bertambah menjadi satu tahun setengah. Pelanggaran atas adat tersebut dapat dihukum
enam tahil tangah maringa (dua buah tempayan jampa dan dua ekor babi).
Perkawinan dalam lingkungan sedarah juga dilarang. Ini berlaku hingga hubungan
darah pada turunan kelima. Perkawinan yang dilakukan dengan saudara sepupu sekali
diancam hukuman sebuah siam sanggar nagari, sebuah siam pangarumpakng, sebuah
panulahatn, sebuah siam pengurus, sebuah siam tepukng tawar, sebuah siam pahar
untuk pengurus adat.

4 Perkawinan antara seseorang keponakan dalam tingkat garis keturunan kedua diancam
hukuman sebuah siam sanggar, sebuah siam bakarabm, sebuah siam sintulahatn, dua
buah siam waris, sebuah siam pahar untuk patone dan sebuah siam tapukng tawar.
Bila suami atau isteri ditinggal pasangannya karena kematian dan hendak menikahi
ipar mantan pasangannya maka dijatuhi hukuman sebuah siam.

Melangkahi saudara yang belum menikah juga dijatuhi hukuman adat. Bila adik
perempuan melangkahi kakak perempuannya, ia dihukum dengan siam kalangkahatn.
Kawin lari juga terancam hukuman tiga buah siam.

Rujuk setelah perceraian diperbolehkan maka keduanya dikenai hukuman sebesar
enam tahil tangah maringa. Apabila keduanya bercerai lagi maka dikenakan hukuman
cerai biasa. Tapi bila ingin rujuk kembali maka akan dihukum sebanyak dua kali lipat
dan seterusnya. Adat tersebut disebut basa’ pagarong. Poligami pun sangat dilarang
karena diancam dengan hukuman siam 12 tahil.

Kini hukum adat perkawinan Dayak Lara tersebut tidak lagi ditarapkan secara penuh
karena pengaruh agama Kristen. Tapi keberadaan agama Kristen tersebut dapat
mengurangi angka perceraian di daerah itu karena Geraja melarang keras perceraian.

Jadi Saump, Perkawinan Adat Dayak Kantuk
Seperti subsuku Dayak lainnya, masyarakat Dayak Kantuk di Kecamatan Embaloh
Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki adat istiadat pernikahan yang mereka sebut
dengan jadi saump. Mereka meyakini bahwa janji dalam pernikahan merupakan
pengikat dalam kehidupan berumah tangga untuk saling cinta dan setia seumur hidup.

Dalam adat istiadat perkawinan Dayak Kantuk, sebelum sampai pada jenjang
pernikahan, calon suami-istri terlebih dahulu harus melewati tiga tahap: bepekat,
betunang dan jadi saump. Menurut A.P. Oempoeng (72) seorang komplet (kepala
adat) suku Kantuk, sejak bertunangan, seorang komplet harus mengetahui. Karena
jika di kemudian hari terjadi perselisihan, komplet akan membantu penyelesaiannya.

5 Pada tahap bepakat, orangtua laki-laki dan perempuan bertemu untuk saling
mengemukakan keinginan menikah anak-anak mereka. Selanjutnya kedua belah pihak
menentukan hari pertunangan. Pada hari pertunangan ini, semua perangkat adat di
kampung mulai dari kebayan, patih, komplet sampai Temenggung harus diundang.
Calon mempelai laki-laki menyerahkan mas kawin kepada perempuan berupa uang
untuk biaya pesta dan perhiasan emas sesuai kemampuan. Mas kawin tersebut
dilengkapi juga dengan pengkeras berupa 1 buah ceper (nampan dari kuningan), 1
buah cincin, 1 buah piring porselen putih dan 1 buah mangkok putih.
Karena sesuatu dan lain hal, jika pertunangan batal, mereka tak luput dari sanksi adat.
Jika yang membatalkan pihak laki-laki, maka dia akan dikenakan hukuman balang
kawin (batal nikah). Terdiri dari hukum adat kampung sebesar 4 buah (1 buah = Rp.
8000 atau 1 buah piring porselen putih), hukum adat supan orang tua 6 buah dan
hukum adat komplet 8 buah. Mas kawin yang telah diberikan kepada perempuan
dianggap hangus. Tetapi jika pihak perempuan yang membatalkan pertunangan maka
selain dikenakan hukum adat balang kawin, ia juga diharuskan mengembalikan mas
kawin kepada pihak laki-laki.

Pada saat jadi saump (pesta perkawinan), kedua mempelai duduk bersanding di atas
tetawak (gong besar) yang dilapisi dengan kain kapuak kumbu (kain tenun khas
Kantuk). Pengantin perempuan mengenakan pakaian adat kain binu’, pakaian adat
perkawinan yang dihiasi dengan manik-manik dan koin perak. Sedangkan mempelai
laki-laki mengenakan cawat. Sebelum upacara adat jadi saump dimulai, Kedua orang
tua mempelai kembali berkompromi untuk menentukan adat pakain (perceraian) dan
pemuai (perselisihan karena salah satu pihak melalaikan tanggung jawab terhadap
keluarga).

Setelah kompromi selesai, upacara adat dimulai dengan kitau (mengibaskan ayam
kampung) ke arah pengantin. Tukang kitau atau pemimpin upacara perkawinan tak
mesti orang-orang perangkat adat atau manang (dukun), tetapi bisa juga orang biasa;
yang penting dia mengerti kitau, membacakan jampi saump dan masih memiliki ibu
dan bapak. “Tukang kitau harus masih memiliki ibu dan bapak dengan harapan bila
kelak pasangan ini memiliki anak kedua orang tuanya tetap lengkap hingga ia
dewasa,” jelas Oempoeng.

6 Setelah kitau, ayam disembelih. Darahnya ditampung di mangkok. Darah ayam
tersebut kemudian diedarkan kepada para undangan, terutama orang-orang tua. Jika
darah ayamnya beku dan padat itu pertanda pasangan akan hidup serasi sampai tua.
Sedangkan bila darah ayamnya berlobang-lobang atau terdapat gelembung-gelembung
udara, pasangan yang bersangkutan diyakini akan tidak langgeng. Darah ayam
tersebut kemudian disengkelan (dioleskan) ke dahi masing-masing pengantin sebagai
tanda sahnya perkawinan. Seperti lazimnya, upacara ritual adat perkawinan
dilanjutkan dengan pesta (makan, minum dan bersuka ria).

Jika dikemudian hari pasangan bercerai, mereka dikenakan hukum adat pakaian
sebesar 50 buah jika menceraikan pasangan dalam keadaan sehat; 70 buah jika sakit
ringan dan 200 buah jika sakit berat. Hukum adat pakain ini ditambah lagi dengan
hukum adat balang kawin. Jika suami tidak bertanggung jawab terhadap istri, apalagi
dalam keadaan mengandung, maka sejak dalam kandungan hingga berumur 18 tahun,
sang Bapak harus menafkahi anaknya sebesar Rp. 3.000/hari dan isterinya sesuai
kemampunan hingga sang istri kawin lagi; ditambah dengan hukum adat balang
kawin.

Perkawinan Adat Dayak Jangkang
Masyarakat Dayak Jangkang berada di Kec. Balai Sebut. Mereka terse-bar di tiga
wilayah ketemenggungan: Koppa, Jangkang Tengah dan Empotokng Engkarokng.
Walau terbagi dua (Jangkang atau Bidoih Jongkakng dan sub-Bidoih Jongkakng),
mereka memiliki kesamaan upacara adat perkawinan.

Hal itu dikatakan oleh Temedy, Ketua Paguyuban Jangkang.Setahunya, adat
perkawinan orang Jangkang dimulai dari proses peminangan yang dilakukan oleh
pihak lelaki. Yang pertamakali harus dipersiapkan dalam meminang adalah wakil atau
utusan serta orang tua calon peminang. Mereka adalah orang yang wajib datang
meminang ke rumah pihak perempuan (calon tunangan). Pada acara meminang,
pemimpin kampung juga wajib hadir. Dalam proses pinangan ini, pihak laki-laki
belum membawa apa-apa, karena hanya mengadakan dialog antar pengurus adat,
perangkat kampung, orang tua kedua calon serta saksi-saksi yang diwakili dari utusan
kerabat.

7 Dulu kata Temedy, syarat utama untuk perkawinan itu ialah dilihat dari kedewasaan
pasangan lelaki. Kedewasaan seseorang tidak dilihat dari umurnya karena jaman dulu
tidak tahu pasti tanggal kelahiran seseorang. Seorang lelaki yang dewasa adalah
bilamana sudah mampu berladang, menyiapkan perangkat atau alat-alat perladangan
seperti beliung, kapak, parang dan sebagainya. Peralatan ketika itu tidak dibeli
melainkan harus membuat sendiri. Ukuran inilah yang biasa dipakai dalam menilai
dewasa atau tidaknya seseorang. Dalam perkawinan adat Dayak Jangkang hanya
mengenal perkawinan monogami.

Lebih lanjut Cristian Mara, seorang seniman Jangkang di Pontianak menjelaskan,
apabila pinangan diterima maka seterusnya harus mempersiapkan perangkat adat,
diantaranya tukar ayam, mangkok dan sebagainya. Upacara adatnya biasa dilakukan
di rumah pihak lelaki, kemudian pihak perempuan datang, lalu disambut orang
sekampung, terutama pihak keluaga lelaki yang membuat acara. Perkawinan adat
yang masih lestari terdapat di daerah Jangkang Tojok, dimana upacaranya dilakukan
dengan cara sakral.

Dalam melaksanakan upacara adat perkawinan, seorang pria memakai cawat ulekng
yang disebut dengan tiop ulekng (celana khas Dayak), sontok cungkekng (logam
berbentuk sepiral yang melingkari kaki dari mata kaki sampai betis), gimaak (seperti
gelang yang melingkari tangan). Alat ini digunakan oleh kedua pengantin sebagai
tanda keabsahan perkawinan.

Pada acara penyambutan atau ncupiik, pengantin pria mengenakan pakaian yang
terbuat dari benang tingang (sejenis akar). Akar kayu tingang ini biasanya juga
dipakai untuk pakaian perang. Perlengkapan lainnya ialah sirih, pinang, kapur, rokok
gulung, korek api ditambah dengan bermacam ragam makanan dan minuman.

Pada proses berikutnya, kedua mempelai disambut di depan gerbang kampung dan
dengan berbagai upacara ritual seperti tari perkawinan daerah Bugau diiringi dengan
tari nyalakng, membunyikan lila (meriam dari baja). Setelah itu, kedua mempelai
dipertemukan di ruang rumah betang dan disandingkan untuk diberi beberapa nasehat
yang disampaikan oleh para tetua adat. Setelah proses itu dilakukan, acara dibubarkan

8 untuk sementara waktu supaya kedua mempelai dan keluarganya bisa istirahat sejenak
serta mandi.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan ritual bebibu. Upacara bebibu merupakan acara
yang cukup besar dimana semua unsur masyarakat, keluarga dan perangkat adat
diikutsertakan. Upacara ritual ini dimeriahkan dengan tembakan lantak ke udara.
Masyarakat disambut dengan acara tincokng (memberi minuman tuak kepada semua
yang ikut dalam acara itu). Bebibu juga dilakukan untuk melihat keberuntungan kedua
mempelai di kemudian hari. Setelah bebibu dilanjutkan sedautn (makan berdua pada
selembar daun). Sedautn diiringi musik tonok (musik gong dan bambu). Pertunjukan
tarian dan pencak silat pun digelar. Setelah ritual sedautn dilanjutkan bebongah
(pemberian nasehat dan petuah-petuah dari orang tua, kepala suku, tetua adat). Kedua
mempelai lalu diberi kunyit wangi dan mandi bersama. Setelah bebongah dilanjutkan
bopacu (kedua mempelai menyajikan makanan dan minuman kepada para tamu).

Acara tersebut merupakan acara pemberian cincin sebagai hadiah perkawinan. Cincin
yang dimaksud adalah alat-alat pertanian atau keperluan hidup ke depan. Selain itu
hadiah juga berupa daging salai (daging yang diasapkan ). Seperti upacara adat
perkawinan Dayak lainnya, babi merupakan bagian utama ritual adat; berikutnya
ayam kampung, telur ayam kampung, sirih, kapur, pinang, rokok dan sebagainya.
Dengan dilaksanakannya ritual itu maka sah sudah kedua mempelai menjadi pasangan
hidup. Siapapun tidak boleh mengganggunya. Kedua mempelai juga sudah siap
mendayung bahtera hidup sampai selama-lamanya.

Tatacara Adat Perkawinan dan Upacara Dayak Tamambaaloh
Tang……tang dungningnang teng……… Begitu kurang lebih intro perpaduan musik
dan tari mengiringi perkawinan sepasang mempelai asal Dayak Tamambaaloh,
Kapuas Hulu. Perpaduan alat musik tataabo (alat musik terbuat dari perunggu).
Kakalintang (alat musik dari kayu lempung), tawak, gong dan gendang terdengar
selaras dengan langkah kaki muda-mudi menari. Sesekali para penari perempuan
menyuguhkan minuman kepada penari laki-laki dalam tarian tabak inyum (irama
inyum). Tarian ini adalah tarian yang diperuntukan untuk orang ramai.

9Perkawinan bagi orang Dayak Tamambaaloh diawali dengan meminang. Dalam hal
ini laki-lakilah yang meminang. Sebelum meminang keduabelah saling pihak bertanya
terlebih dahulu. Kalau ada kecocokan dan sama-sama mau, dan apabila sudah matang
pembicaraan baru meminang. Alat pengikatnya adalah kain dan cincin. Dalam
meminang sudah tak diperbolehkan ingkar. Kalau ada pihak ingkar maka yang
bersangkutan mendapat hukuman. Hukum Buangan Tunang. Dalam hal ini barang
antaran tak boleh diambil dan pihak yang ingkar dihukum denda senilai barang
antaran. Masih ada hukuman tambahan yakni yang bersangkutan dilepaskan dari
kepemilikan harta warisan bersama (keluarga batih).” Papar Drs.Rafael Salaan (67),
tetua Dayak Tamambaaloh panjang lebar kepada KR.

Apabila ada kesepakatan maka pihak yang sudah saling menyukai akan
melangsungkan perkawinan di gereja. Malam harinya atau beberapa hari berdasarkan
hasil kesepakatan dilangsungkan Upacara Adat atau Perkawinan Adat. Upacara ini
biasanya dilangsungkan malam hari karena sekaligus dilanjutkan pesta. Seusai itu
maka mereka dihantar ke tempat tidur. Disana, mempelai perempuan telah menanti
bersama kawan-kawan pemudi. Sang mempelai priapun tidak datang sendiri,
melainkan masuk dengan kawan-kawan lelaki. Tak lama kemudian ada tetua
membawakan/membacakan sastra. tujuannya agar tidur sepasang mempelai nyenyak.
Sastra dimaksud adalah sastra indah bahasa tinggi yang disebut baranaangis.

Malam itu, kedua mempelai tak diperkenankan tidur. Sebab keduanya harus ikut
menari dan berdendang. Upacara Perkawinan dilangsungkan esok paginya. Ada
prosesi adat Sijaratan yang harus dilalui. Upacara Sijaratan mesti dilakukan saat
matahari naik. Berkisar jam 09.00-10.00 atau sebelum jam 12 siang.

“Untuk upacara ini ada peraturan tidak boleh malam atau sore.” pesan Rafael Salaan,
mantan Camat Pontianak Selatan ini dan kini9 masih berdomisili di Pontianak.

Sijaratan itu artinya saling mengikatkan Tali Akar Tanang. (Si-artinya saling. Jaratan,
mengikat). Akar Tanang ini adalah akar yang kuat. Tidak boleh diganti dengan tali
lain seperti nilon atau benang. Akar Tanang ini sebenarnya untuk pengikat manik-
manik (tolang manik).
Teknisnya, tentu saja pihak yang mengikatkan adalah orang lain, bukan kedua

10 mempelai. “Orang lain inipun ada syaratnya.” Kata Salaan bernada peringatan.

Dijelaskan bahwa orang lain dimaksud adalah orang pilihan yang sudah ditunjuk.
Apabila yang menikah kaum bangsawan maka yang mengikatkan adalah sepasang
suami istri orang terpandang yakni Anak Maam.

Pada saat pengikatan tali Akar Tanang dilangsungkan juga Baranaangis. Dilakukan
oleh perempuan ahli. Teknisnya, kepada mempelai laki-laki yang mengikatkan adalah
pasangan istri, kepada mempelai perempuan diikatkan oleh suami dari pasangan
bangsawan itu sendiri.

Sebaliknya apabila Anak Maam (Ulun Maam) yang menikah maka yang mengikatkan
Akar Tanang dengan biji manik adalah bangsawan tulen/murni/tutu (Sepasang
bangsawan). Bukan janda atau duda, tidak pernah kematian anak dan tidak sedang
pisah ranjang apalagi bercerai. Dalam hal ini “derajat” Anak Maam diperoleh karena
kehidupannya berada, tidak pernah melanggar adat, tutur kata sopan santun,
kesemuanya jadi buah bibir di masyarakat untuk dicontoh atau diteladani. Yang
bersangkutan juga mesti ringan hati serta ringan tangan menolong orang yang
mengalami kesulitan.
Makna lain dari tali (Sijaratan) adalah lambang ikatan menjadi suami istri secara
resmi menurut adat Dayak Tamambaaloh. Perkawinan ini diharapkan abadi, tak
terceraikan.

Prosesi Sijaratan biasanya diiringi pembacaan sastra. Tujuannya tak lain dan tak
bukan adalah wujud doa atau mendoakan perjalanan hidup kedua mempelai supaya
berumur panjang, murah rejeki hingga pasangan itu menghadap Pencipta-Nya.
Kehidupan dan kematian bagi warga Dayak Tamambaaloh laksana perjalanan
matahari terbit hingga terbenam (matahari atau mataso dalam bahasa Tamambaaloh).

Lain lagi apabila komunitas Tamambaaloh menikah dengan orang diluar Dayak
Tamambaaloh. Berlaku Adat Pamae’ Batang Tamambaaloh, Pamae’ Mambangan
orangtua si gadis serta Pandaakap Kawan Sundaaman (Pamae’ = pembuka dan
Pandaakap Kawan Sundaaman artinya merangkul kaum keluarga istri agar anak
mereka (generasi mereka kelak) Na’an Subaali maksudnya tidak terlepas

11 kepemilikannya atas harta serta tanah perladangan. Maksud kata Pamae’ (Pembuka)
agar pendatang dimaksud tidak assaoe (kuwalat).

Perkawinan bagi Dayak Tamambaaloh tampak banyak syarat dan melewati proses
panjang. Bukti bahwa masyarakat Adat Dayak Tamambaaloh memiliki sistem
kekerabatan yang khas.

Dilema Penerapan Hukum Adat Perceraian Dayak Riok

Hukum adat Dayak manapun sebenarnya melarang perceraian. Tetapi jika perceraian
harus terjadi, hukum adat dapat menyelesaikannya. Penyelesaian kasus perceraian
secara hukum adat tersebut memang bertentangan dengan hukum Kanonik milik
Gereja Katolik, yang sama sekali melarang perceraian.

Kenyataan tersebut menjadi dilema bagi Dayak Bakati Riok yang mendiami Benua
Riok di Kecamatan Sanggau Ledo Kab. Bengkayang. Penyelesaian kasus perceraian
secara hukum adat sering membuat pusing para ketua adat. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Tumenggung Damianus Duwi, seorang Temanggung Sub Suku
Bakati’ Riok Kec. Sanggau Ledo Kab. Bengkayang. “Ada kasus yang terjadi di
wilayah hukum Benua Riok, seorang istri meminta cerai dengan suaminya. Menurut
sang istri, suaminya telah melakukan Babayu’ (perselingkuhan) dengan perempuan
lain. Karena itu sang istri meminta cerai secara adat,” jelas Temanggung Duwi.

Hukum adat Bakati’ Riok menurut Temanggung Duwi sebenarnya tidak
membenarkan perceraian. “Hukum adat Dayak Riok mengakui adanya hukum
perceraian tetapi secara moral adat, hal itu tidak dibenarkan oleh karena itu pasangan
tersebut harus dihukum,” jelas Duwi.

Masalah serius muncul ketika hal tersebut dikaitkan – dimana pasangan tersebut juga

12 telah menikah secara Katolik karena keduanya orang yang beragama Katolfk.
“Hingga sekarang kasus tersebut menggantung. Walaupun, adat telah memutuskan
mereka berceral dan menghukum mereka secara adat, namun pihak gereja tidak
mengakui keputusan adat tersebut,” tambah Duwi.

Di mata hukum adat, tindakan pihak isteri tersebut bisa dibenarkan. Mereka berdua
dapat saja bercerai karena terbukti salah satu pasangan berlaku tidak setia. Tapi tidak
demikian halnya dengan hukum Kanonik. Gereja Katolik justeru memandang bahwa
perceraian tidak boleh terjadi.

Uskup Agung Pontianak Mgr. Hieronimus Bumbun OFM.Cap menyatakan Gereja
Katolik mengakui eksistensi lembaga adat. “Kami mengakui pula keputusan-
keputusan yang diambil dalam kompetensi hukum adat komunitasnya. Namun ketika
keputusan yang diambil adalah menceraikan sebuah keluarga yang telah menikah
secara Katolik, Gereja Katolik tidak mengakui perceraian tersebut. Perceraian dalam
sebuah perkawinan terjadi hanya bila salah satu dan pasangan tersebut meninggal
dunia,” tegas Mgr. Hieronimus.

Masalah perceraian menurut Mgr. Bumbun bisa diatasi dengan memberi waktu
kepada pasangan tersebut untuk merenungkan kembali masalah yang sedang mereka
hadapi. “Dalam hukum perkawinan Gereja Katolik ada yang dikatakan “pisah
ranjang” dimana waktu tersebut diberikan untuk merenungkan kambali masalah yang
mereka hadapi.”

Ikatan perkawinan bagi Gereja Katolik adalah suatu ungkapan man dimana
perkawinan dianggap sebagai dua manusia yang disatukan oleh Tuhan. Dalam hal mi
pejabat gereja atau institusi Gereja Katolik tidak mempunyai hak untuk menceraikan
mereka. “Iman adalah masalah spiritual seorang Katolik yang diungkapan dalam iman
kepada Tuhan, termasuk dalam ungkapan setia ‘sehidup semati’ dalam ikatan
perkawinan. Nah ketika seorang Katolik memutuskan ikatan perkawinannya, maka ia
telah mengingkari imannya-dan ml bukan masalah orang tersebut dengan gereja atau
pejabat gereja, tetapi masalahnya dengan Tuhan,” tegas Mgr. Bumbun.

Dalam kasus ketika salah seorang dan pasangan telah melakukan perselingkuhan

13 berulang-kàli setelah sebelumnya orang tersebut pernah diampuni perbuatan dan
laporan telah sampai pada Gereja Katolik, pihak gereja atas laporan pasangan yang
dikhianati akan melakukan Pengadilan Yudicial Gereja. “Hal tersebut dilaksanakan
setelah melakukan penyelidikan secara seksama atas hidup perkawinan pasangan
tersebut.”

Penyelidikan tersebut bisa saja memerlukan waktu bertahun-tahun. Karena datam hal
mi, harus diketahui alasan yang sangat tepat dan pasangan yang marasa di khianati.
“Jika pasangan yang merasa dikhianati tersebut sebelumnya tidak mempuyai
kehendak bebas melakukan ikatan perkawmnan, hingga ia merasa tidak mengenal
pasangannya secara utuh, itu merupakan alasan yang paling kuat yang diakui
gereja,”tegas Mgr. Bumbun.

“Namun menyelenggarakan Pengadilan Yudicial Gereja bukan suatu yang dianggap
sepele dan mudah dilakukan. Ia harus melibatkan banyak orang dan menghabiskan
banyak waktu dan tenaga. Kemudian secara psikologis hal tersebut akan
mempengaruhi situasi umat secara keseluruhan.”

Masih menurut Mgr. Bumbun, keputusan yang diambil bukanlah oleh pejabat gereja
di tingkat keuskupan, namun oleh Paus yang berkedudukan di Roma. “Dalam
pengadilan keputusan tersebut dapat saja bersifat menceraikan atau sebalik jika
dianggap alasan yang mendasari tuntutan cerai tersebut tidak kuat.” ungkap Mgr.
Bumbun.

Kasus itu hingga kini masih menggantung. Apalagi upaya pengurus adat untuk
mendamaikan kedua suami isteri tersebut tidak berhasil. Pihak isteri tegas-tegas
menyatakan mau bercerai karena kelakukan suaminya.

Dusa Malakng, Buat Penyelingkuh
Suatu malam, warga memergoki Jari (bukan nama sebenarnya), seorang pemborong
sebuah proyek jalan sedang “bercinta” dengan Es (juga bukan nama sebenarnya).
Keduanya sama-sama sudah berkeluarga. Saat kejadian, suami Es kebetulan tidak
berada di rumah.

14 Menurut Deka, seorang warga masyarakat adat Dayak Krio Ketapang yang tinggal di
Pontianak, perselingkuhan antara Jari dengan Es itu merupakan pelanggaran terhadap
hukum adat dusa malakng (suami orang lain berselingkuh dengan isteri orang lain).
Penyelesaian kasusnya harus melalui perkara adat yang dipimpin oleh seorang mantir
adat (orang yang khusus mengurus masalah hukum adat).

Deka menjelaskan, hukum adat dusa malakng ini terdiri dari dua jenis, yakni dusa
malakng kepada pihak suami perempuan yang berselingkuh dan dusa malakng kepada
pihak isteri laki-laki yang berselingkuh, ditambah donda padusa (pihak laki-laki dan
perempuan yang berselingkuh membayar adat kepada mantir).

Dikatakan Deka, besar masing-masing hukum adatnya berbeda. Dalam dusa malakng
suami orang, pihak laki-laki yang berselingkuh mengeluarkan adat berupa 3 x selawi
(nilai satuan hukum adat tertinggi). Selawi setara dengan 2 x 16 poku (nilai satuan
hukum adat di bawah selawi). Sepoku sama dengan sekitar delapan centimeter rantai
perak, sama dengan empat singkar piring putih. Sedangkan selawi sama dengan
delapan singkar piring putih. yang nilainya sebesar . Pihak laki-laki yang berselingkuh
juga wajib mengeluarkan 3 buah tempayan, dua belas singkar pingatn (piring) putih,
tiga ekor ayam dan seekor babi. “Semua adat itu diberikan kepada pihak suami
perempuan yang berselingkuh,” kata Deka.

Hukuman sejenis diberikan juga kepada pihak perempuan yang berselingkuh. Ia harus
mengeluarkan adat kepada pihak isteri laki-laki yang berselingkuh dengan tiga buah
tempayan, dua belas singkar piring putih, tiga ekor ayam dan seekor babi. “Hukum
adat ini diberikan karena pihak perempuan mengganggu suami orang lain,” tandas
Deka.

Disamping dikenakan hukum adat dusa malakng, keduanya dijatuhi donda padusa
(denda adat). Masing-masing harus mengeluarkan adat dengan sebuah tempayan tajo
(tajau), selawi, sebuah tempayan tuak, seekor ayam dan seekor babi. “Denda adat ini
diatur oleh mantir yang memutuskan perkaranya,” jelas Deka.

15 Dalam kasus seorang bujangan berselingkuh dengan isteri orang lain atau seorang
gadis berselingkuh dengan suami orang lain maka hukum adat hanya dijatuhkan
kepada pihak laki-laki yang belum berkeluarga atau pihak perempuan yang
berkeluarga. Artinya, yang mengeluarkan adatnya hanya pihak yang belum
berkeluarga. Sedangkan pihak perempuan atau laki-laki yang sudah berkeluarga sama
sekali tidak dikenakan, kecualai donda padusa. “Masalahnya, yang belum berkeluarga
itu mengganggu orang yang sudah berkeluarga,” kata Deka beralasan.

Hukum adat yang harus ditanggung oleh pihak laki-laki atau perempuan yang belum
berkeluarga adalah 3 x selawi, tiga buah tempayan, dua puluh singkar piring putih,
tiga ekor ayam, seekor babi dan sebuah tempayan tajau sebagai penyaman hati.
Semua adat itu diberikan kepada pihak suami atau isteri yang menjadi lawan
selingkuh pihak perempuan atau laki-laki yang belum berkeluarga.

Donda padusa dalam kasus perselingkuhan antara pihak laki-laki atau perempuan
yang belum berkeluarga dengan pihak perempuan atau laki-laki yang sudah
berkeluarga sama dengan donda padusa pada orang yang sama-sama berkeluarga.
Masing-masing pihak wajib membayarnya dengan tempayan tajo (tajau), selawi,
sebuah tempayan tuak, seekor ayam dan seekor babi. Adat padusa ini pun diurus dan
diatur oleh mantir adat yang memutuskan perkara.

Sepengetahuan Deka, hukum adat perselingkuhan Dayak Krio yang sekarang tidak
seketat zaman dulu. “Dulu perempuan dan laki-laki tidak boleh berpapasan di jalan;
tidak boleh bersamaan naik tangga rumah, walaupun yang satu naik dari tangga
belakang dan yang satu naik dari tangga depan; tidak boleh mencium anak orang
karena karena dianggap sebagai cium kiriman; tidak boleh ada bekas ludahan kapur
sirih pada lantai jika suami seseorang sedang tidak ada di rumah,” kisah Deka.
Hukum Adat Berselingkuh Dayak Jangkang

16 Suatu hari, Anti (bukan nama sebenarnya) diketahui berselingkuh dengan Anto (juga
bukan nama sebenarnya). Keduanya kebetulan sama-sama sudah berkeluarga.
Perselingkuhan antara Anti dengan Anto ini menimbulkan kemarahan dari pihak
suami Anti dan isteri Anto. Ketentraman rumah tangga kedua belah pihak pun tak
dapat dihindari.

Menurut Camas, seorang tetua adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung di kampung
Pana, sekitar 10 km dari kota Sanggau, kasus perselingkuhan itu tergolong melanggar
hukum adat mengganggu rumah tangga orang lain. Dalam hal ini kedua belah pihak
sama-sama bersalah. Karenanya kedua belah pihak harus membayar denda malu
kepada pihak yang merasa dirugikan. Dalam hal ini, pihak perempuan yang
berselingkuh harus membayar denda malu kepada pihak isteri pasangan
selingkuhannya. Demikian juga sebaliknya, pihak laki-laki yang berselingkuh juga
harus membayar adat malu kepada pihak suami lawan selingkuhnya.

Camas mengatakan, karena berselingkuh itu merupakan perbuatan yang salah, maka
pihak perempuan wajib membayar adat sebesar 6 tael (nilai satuan adat Dayak
Jangkang Jungur Tanjung) kepada pihak isteri lawan selingkuhnya serta membayar
adat sebesar 3 tael kepada pihak suaminya. Pihak laki-laki yang berselingkuh juga
wajib membayar adat sebesar 6 tael kepada pihak suami lawan selingkuhnya dan
membayar adat sebesar 3 tael kepada pihak isterinya.

Lebih lanjut Camas mengatakan, jika perselingkuhan menyebabkan perceraian di
salah satu pihak, maka hukum adatnya akan lebih besar lagi. Hal itu dilihat lagi siapa
yang kuat minta cerai, apakah pihak suami atau pihak isteri. Bila keinginan cerai
datang dari pihak suami, maka pihak suamilah yang dikenakan sanksi adat.
Sedangkan pihak isterinya tidak dikenakan sanksi apapun. Nilai sanksi yang harus
dikeluarkan oleh pihak suami sebesar 6 tael. Disamping sanksi 6 tael, pihak suami
juga harus mengeluarkan babi 10 tokah, ayam 2 ekor, tuak 12 botol, 2 buah tempayan
kecil dan sejumlah uang sebagai ongkos perkara.

Bila pihak suami menceraikan isterinya dalam keadaan cacat fisik, maka hukum
adatnya akan bertambah lagi. “Jika sang isteri diceraikan dalam keadaan cacat, maka
selain membayar 6 tael, pihak suami juga harus membayar sanksi setengah pati nyawa

17 sebesar 8 tael, 2 buah tempayan, 15 tokah babi, 2 ekor ayam dan 16 botol tuak,” kata
Camas.

Dikatakan Camas juga, dalam putusan perkara adat mengganggu rumah tangga orang
lain, masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung biasanya melakukan semacam
pengajuan kasus kepada tetua adat untuk mencari akar permasalahannya. Dalam hal
ini, yang menjadi korban terlebih dulu melaporkan kejadian perkaranya. Pada tahap
pelaksanaannya, pemutus perkara biasanya melihat secara arif mana yang harus
dikenakan sanksi, mana yang tidak dikenakan sanksi, mana yang dikenakan sanksi
lebih berat, mana yang harus dikenakan sanksi yang lebih ringan atau keduanya harus
dikenakan sanksi yang sama berat atau ringannya.

Setiap perkara adat juga selalu dipimpin oleh seorang temenggung. Perkara adat dapat
digelar jika kedua belah pihak terlebih dahulu mengadukan persoalannya ke tetua adat
dan selanjutnya diambil langkah secara bertahap untuk menentukan apa yang
selanjutnya dilakukan. Setelah disetujui kapan, dimana, apa yang harus disiapkan,
bagaimana cara pelaksanaannya, maka kasus tersebut dilanjutkan dan segera dimulai
dengan melibatkan seluruh warga kampung, kecuali anak-anak.

Kemudian, pada setiap menggelar perkara adat selalu ada babi dan ayam, yang
nilainya sangat tinggi. Selain itu ada nilai satuan lain yang disebut tokah. Tokah
bernilai sesuai dengan ukuran kesalahan. Ia merupakan ukuran yang nyata karena
diukur dengan menggunakan jari tangan. Misalnya, 3 tokah sama dengan 3 jari.
Denda adat yang bernilai 3 tael sama dengan 5 tokah, 9 tael sama dengan 15 tokah,
ditambah 3 ekor ayam. Tuak 3 tael sama dengan 6 botol.

Masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung di Pana juga masih menerapkan
hukum adat secara ketat seperti halnya hukum adat pati nyawa, hukum adat cerai,
hukum adat mencuri. Pada setiap putusan adat, masyarakat adat Dayak Jangkang
Jungur Tanjung tetap menggunakan satuan nilai adat yang disebut tael. Nilai adat
tersebut tetap asli karena belum menyesuaikan diri dengan perubahan jaman.
Karenanya, pembayaran sanksi adatnya selalu menggunakan seperangkat adat yang
bila dilihat sekarang sangatlah mudah untuk didapat di pasaran dengan harga yang

18 relatif murah. “Nilai adat di kampung Pana ini masih sangat suci karena belum pernah
mengalami perubahan nilai sanksi sedikitpun. Walaupun begitu, kasus perceraian di
daerah kami dapat dikatakan sangat langka terjadi,” ujar Camas.

Camas pun mengakui, masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung di Pana –
dari dulu hingga sekarang – masih tetap melaksanakan serta menjunjung tinggi adat
istiadat. Salah satu contohnya, masyarakat adat Dayak Jangkang Jungur Tanjung
masih melakukan penyembuhan penyakit melalui beboretn (pengobatan alternatif
dengan menggunakan jasa seorang belian). Masyarakat adat Pana pun masih sering
berbalas pantun dengan bahasa sastra.
Hukum Adat Berselingkuh Orang Jawant
Dayak Jawatn Tak Mentolerir Perselingkuhan
Perkawinan yang didorong-dorong oleh orang lain ternyata membawa petaka bagi
Marina (bukan nama sebenarnya). Apalagi Udin (bukan nama sebenarnya), lelaki
yang menjadi suaminya, lebih cocok dijadikan ayahnya. Setelah belasan tahun
menikah, keluarga ini tidak juga mendapatkan keturunan. Dalam kondisi demikian itu,
kehidupan keluarga Marina-Udin dinodai oleh kehadiran orang ketiga, sebut saja
Gaga, teman sekampung Udin. Entah mengapa Marina kemudian terpikat dengan
Gaga hingga hamil.

Berdasarkan keterangan yang dihimpin KR, hubungan Marina dengan Gaga itu
bermula ketika Gaga berkunjung dan menginap ke rumahnya di kawasan Parit
Pangeran. Diam-diam, Marina dan Gaga pun lalu saling cinta. Hubungan Gaga
dengan Marina yang semula hanya terbatas pada tuan rumah dan tamu berkembang
menjadi perselingkuhan. Kedua sejoli itu bahkan melakukan hubungan intim layaknya
suami-isteri.

Sementara, Udin yang bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan di Pontianak
tidak mengetahui jalinan cinta isterinya dengan Gaga itu. Ia bahkan sama sekali tidak
pernah curiga sedikitpun. Ia pun tetap tenang-tenang saja pergi bekerja dan lembur
malam hari di perusahaan tempat ia bekerja. Udin baru tahu percintaan isterinya
dengan temannya itu ketika Marina sudah hamil. Ia pun bertanya siapa ayah dari anak

19 yang dikandung isterinya itu. Marina pun menjawab jujur kalau ayah dari bayi yang
dikandungnya adalah Gaga. Sebab itu Marina pun menceraikan Udin, lalu menikah
secara adat dengan Gaga.

Kasus ini semula tak banyak yang tahu. Tetapi kasus perselingkuhan Marina-Gaga itu
akhirnya tercium juga oleh para Penatua Patih Singa Ria (paguyuban masyarakat
Dayak dari Sekadau). Berdasarkan hukum adat Dayak Jawatn, orang yang
berselingkuh harus dikenakan hukuman adat. Karena itu pada pertengahan Januari
2002 para penatua Paguyuban Patih Singaria menggelar perkara adatnya menurut
hukum adat Dayak Jawatn untuk menyelesaikan permasalahan itu.

Dalam perkara adat tersebut, Gaga dan Marina dikenakan Hukum Adat Beselingkuh
16 Peku (tingkatan dalam hukum adat Jawatn); dengan batang adat terdiri dari 16 x 3
buah mangkok, ditambah 8 sirap (buah) mangkok diisi beras, berkepala dengan
sebuah tempayatn kambong (tempayan adat hitam), berekor dengan 4 jar kain belacuk
(kain putih, sekitar 4 x 90 cm). Ditambahkan adat empogat (untuk makan orang
sekampung) pelanggar diwajibkan mengeluarkan babi 3 renti (sekitar 45 kg), beras
putih 16 kulak (gantang), tuak 6 tempayatn dan seekor ayam.

“Mangkok Sirap dan beras kombang (Beras dalam mangkok) diberikan kepada orang
yang memutuskan adat, sehingga adat ini sah diberlakukan. Karena dalam adat kami
tidak ada istilah beribu. Mangkok sirap dan beras kombang ini dapat diistilahkan
sebagai penandatanganan,” kata Lansang.

Marina sendiri, karena dianggap membuang suaminya maka ia dikenakan juga hukum
adat 16 peku. Pengeluarannya di bagi tiga: dua bagian dikeluarkan oleh Gaga dan
sebagian lagi dikeluarkan oleh Marina. Karena sudah menikah secara adat, maka
Marina dan Gaga tidak dikenakan lagi adat empogat.

Nilai hukum adat ini memang agak sulit diuangkan secara pasti karena kebanyakan
barang-barang, terutama mangkok sakok atau mangkok adat tidak lazim di pasaran
sekarang dan harganya berubah-ubah. Denda adat yang dijatuhkan kepada Marina
kemudian dibayarkan pada tiga pihak yakni orang kampung, Udin dan perkumpulan
Patih Singaria. “Adat ini jangan dilihat seberapa besarnya. Kalau dihitung duitnya

20 memang murah. Tetapi yang lebih penting adalah tujuannya: agar pelaku memperoleh
malu dan kemudian menjadi sadar akan tingkah lakunya. Hukum adat juga penting
untuk meminta maaf kepada alam,” kata Lansang, seorang penatua Patih Singaria.

Dayak Jawant adalah salah satu 11 Sub Suku Dayak yang tergabung dalam
Peguyuban Sekadau, yang berasal dari pedalaman Sekadau Hulu atau Rawak di
Kabupaten Sanggau. Hukum adat Dayak Jawatn tersebut diturunkan oleh
Temonggong Biin Patih Gomin, Kucin Luya Goner Linggap, Lombong Arak, Atu
Lalu, Gurak Mangkak, Beliong Bangkal. Tapi menurut Lansang, hukum adat
perselingkuhan Dayak Jawatn itu tidak terlalu kaku. Dia ditentukan berdasarkan
seberapa jauh porsi kesalahan yang dilakukan pelanggar. Pemutusan adat itu
dilakukan setelah melalui proses perundingan yang panjang dan mendengarkan
keterangan pelaku dan pelapor. “Adat Selingkuh tidak terlalu berbelit. Dilihat
berdasarkan seberapa jauh porsi kesalahannya. Dari sanalah Temonggong atau
pemutus adat, menentukan adat mana yang dipakai,” jelasnya.

Jadi, dengan adanya hukum adat perselingkuhan Dayak Jawatn itu bukan berarti
orang Dayak Jawatn memperbolehkan perselingkuhan. Hukum adat berselingkuh itu
justeru merupakan larangan bagi setiap orang untuk berselingkuh. Dan hukum adat
Dayak manapun tidak pernah melumrahkan orang supaya berselingkuh.

Adat Enam Belas Untuk Selingkuh

No. Nama Adat Banyaknya

1. Mangkok Adat 16 Poku 3 x 16 buah = 48 buah

2. Mangkok Sirap dengan Beras 8 buah

3. Tempayan Adat / Tempayan Hitam 1 buah

4. Kain putih / Blacu 1 jar (1 jar kira-kira 90 cm)

5. Ayam Dewasa 1 Ekor

Adat Empegat untuk Selingkuh

No. Nama Adat Banyaknya

21
1. Babi 3 renti (1 renti kira-kira 15 kg)

2. Beras 16 gantang

3. Air Tuak 6 tempayan

Hukum Adat Selingkuh Masyarakat Jelay Ketapang

Baron (45/bukan nama sebenarnya) telah lama menaruh hati kepada Minarni (37).
Meskipun keduanya sudah sama-sama menikah. Suatu hari Minarni didapati Theresia
Nimah, sang istri sah Baron duduk berdua-duaan di pojok suatu warung pasar malam
17 Agustusan lalu.

Konon, relasi Baron-Minarni sudah berlangsung 5 tahun. Semula, Theresia Nimah tak
menaruh syak wasangka kepada sang suami meskipun banyak pihak yang
menggunjingkan relasi sang suami. Bahkan, si jabang bayi berusia 8 bulan yang lahir
dari rahim Minarni disinyalir adalah buah dari cinta terlarang keduanya. Dugaan ini
diperkuat oleh rupa sang anak yang mirip wajah Baron. Memang, kepercayaan
Theresia Nimah kepada sang suami telah dimanfaatkan untuk melirik ke lain hati
meskipun hati itu sudah milik sah Antonius, suami Minarni. Tetapi, lama kelamaan,
terdorong tekanan dari dalam hati yang menyesakkan membuat Baron gelisah.
menanggung rahasia yang lebih cocok disebut sebagai aib ini. Baron kemudian
mengaku jujur kepada sang istri pernah meniduri Minarni.

Dalam bahasa sehari-hari, Baron telah selingkuh. Dalam bahasa Dayak Jelai disebut
kacau bilau haru biru. Dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi penggangguan
terhadap pasangan suami atau istri sah oranglain.

“Bagi masyarakat Jelay, pasangan yang selingkuh mesti dikenakan hukuman adat.
Hukum adat bagi si pelaku selingkuh adalah 3 buah tajau atau 3 lasaq. Satu (1) tajau

22 senilai 250 perbuah. Kalau 3 tajau berarti bernilai 750 perbuah. Tetapi bukan
rupiahnya yang hendak ditonjolkan disini. Melainkan sangsi moral yang dimaksud
yang semestinya tak bisa dinilai dengan materi.” Ungkap Stepanus Djinar, tetua
Dayak Jelay kepada KR.

Dikatakan bahwa konvensasi benda dalam hukum adat selingkuh harus berupa tajau,
dan tak bisa digantikan oleh benda lain.

“Sebab dalam komunitas kami kesalahan seperti ini tergolong berat.” Tandas aktivis
sanggar budaya Gemalag Kemisiq. Tajau diberikan kepada orang yang menuntut.
Yang menuntut bisa suami yang diganggu, juga dari sang istri yang suaminya
berselingkuh.

“Tiap-tiap selasaq hukuman yang dibayarkan kepada pihak yang menuntut harus
ditambah genggalang buat turun 2 piring. Bagi yang menerima (si penuntut) tiap-tiap
1 tajau harus mengeluarkan genggalang buat turun sama dengan 1 piring. Bagi
komunitas Masyarakat Jelay pihak yang digenggalang harus dibagikan kepada peserta
Sidang Adat, dimana perkara itu diputuskan. Teknisnya, dibagikan kepada peserta,
tua-tua, damung dan raja-raja.” Papar Djinar yang juga guru Muatan Lokal ini.

Dalam Hukum Adat Masyarakat Dayak Jelay berlaku azas bahwa hukum adat itu
tidak boleh kurang tetapi juga tidak boleh ditambah-tambah atau berlebihan.

Seperti halnya hukum adat pada Masyarakat Adat Dayak sub suku lain, bagi Dayak
Jelay setiap jenis hukum adat bertujuan agar pelaku jera sehingga tidak mengulangi
perbuatannya. Apabila didapatkan mengulang maka hukumannya akan lebih besar
lagi. Yakni 3-5 lasaq, tiap selasaq dilengkapi 2 singkar pinggan (sesingkap piring).
Masih ditambah hukuman lagi oleh Damung Ganda Rajaq.

“Tujuannya ‘pengajaran’ kepada orang tersebut dari Damung. Supaya jera dan yang
bersangkutan tidak mengulang perbuatannya lagi. Apabila terjadi mengulang kembali
maka yang bersangkutan tambah hukuman menjadi 3-5 lasaq” Kata mantan lurah
kelahiran Tanjung, 66 tahun silam.

23 Hal lain yang menjadi catatan juga apabila pada saat sebelum maupun selagi
mengurus perkara adat sampai terjadi perkelahian. Maka, ditilik terlebih dahulu
apabila perkelahian itu sampai mengeluarkan darah maka 15 diatas ditambah satuan
barang tajau 1 ditambah 2 piring putih. Tetapi apabila tidak mengeluarkan darah
hanya separuh dari sangsi adat itu yang dikenakan kepada yang bersangkutan.

Pada akhirnya, bagi masyarakat Adat Jelay Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten
Ketapang segenap hukum adat baik yang kecil maupun yang besar ada genggalang
buat yang turun dan naik yang dibagikan kepada peserta sidang.

Download

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Upacara Tadisional Suku Lembak Kota Bengkulu

Kebudayaan yang hidup dalam setiap suatu masyarakat pendukung dapat berwujud sebagai komunitas Desa, sebagai kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak yang khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Kuntjaraningrat (1983) mengungkapkan bahwa corak khas suatu kebudayaan menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus; atau karena diantara pranata-pranatanya ada suatu pola sosial yang khusus; atau dapat juga karena warganya menganut tema budaya yang khusus.

Corak khas suatu kebudayaan yang ada pada sekumpulan masyarakat itu kita katakan suku bangsa. Untuk lebih jelas dapat dilihat seperti daerah Propinsi Bengkulu terdapat berbagai suku bangsa yang memiliki corak budaya yang khas seperti; suku bangsa Rejang, Serawai, Lembak, Enggano, Kaur, Muko-Muko, Melayu dan lain-lain. Di masing-masing suku bangsa tersebut masyarakat pendukugnya terikat oleh kesadarab dab identitas akan kesatuan kebudayaan.

Masing-masing suku bangsa tersebut biasanya menempati daerah kebudayaan (Culture Area) yang memiliki kebudayaan yang masing-masing mempunyai beberapa unsur yang mencolok. Ciri-ciri yang dapat dijadikan alasan untuk mengklasifikasikan tidak hanya berwujud kebudayaan fisik, seperti misalnya alat-alat berburu, bertani, senjata, bentuk ornamen perhiasan, bentuk tempat kediaman, melainkan juga kebudayaan yang lebih abstrak dari sistem sosial atau sistem budaya, seperti; unsur-unsur organisasi kebudayaan, upacara keagamaan, upacara perkawinan, cara berfikir dan sebagainya.

UPACARA TRADISIONAL

Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dan mempunyai ruang lingkup yang luas bila kita bandingkan dengan sistem nilai budaya lainnya seperti; tingkat norma-norma, tingkat hukum, dan tingkat aturan khusus. Sistem nilai budaya (sistem nilai kebudayaan) merupakan ide-ide yang mengkonsepsi hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.

Sistem nilai budaya merupakan konsepsi yang bernilai tinggi seperti contoh dalam masyarakat yang bersifat universal adalah nilai-nilai kegotong royongan yang sekaligus mencerminkan kekeluargaan.

Tingkat norma-norma dalam masyarakat (sistem norma) merupakan nilai-nilai budaya yang sudah terkait pada peranan-peranan tertentu dari manusia dalam masyarakat merupakan sejumlah norma yang menjadi pedoman bagi kelakuannya dalam memainkan peranannya.

Karena sistem nilai budaya yang hidup dalam alam pikiran pendukung suatu kebudayaan sangat tinggi nilainya, maka hal itu berimplikasi pada sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tertinggi dalam kehidupan manusia dan dijunjung tinggi. Karena adat istiadat merupakan wujud ideal dan bagian dari kebudayaan, maka sistem nilai budaya seolah-olah berada diluar dan di atas dari individu-individu warga dalam masyarakat. Nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat itu telah ditanam dan diresapi oleh setiap individu pendukung suatu kebudayaan sejak kecil, sehingga menjadikan konsep-konsep tersebut berakar dalam jiwa masing-masing individu dalam masyarakat. Dengan demikian nilai-nilai budaya yang ada dalam suatu masyarakat pendukungnnya sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam kurun waktu yang singkat.

Sistem nilai budaya (Cultural value system) akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan mempengaruhi tatacara upacara, bentuk dan jalannya organisasi upacara, fungsi-fungsi dari setiap tatacara upacara yang ada dalam siklus kehidupan masyarakat.

Upacara trandisional dalam suatu kehidupan sangat banyak jenisnya, terutama yang berkaitan dengan daur kehidupan (life cycle) seperti; a). adat upacara menolak balak, b). untuk memperoleh keselamatan, c). upacara untuk mengambil keselarasan dalam kehidupan masyarakat, dan d). upacara adat untuk memperkokoh penghulu dan sebagainya.

Pada masyarakat yang sangat heterogenitas (dari berbagai suku) seperti di Kota Bengkulu tentu akan membawa pada masalah benturan-benturan sosial budaya seperti halnya dalam tatacara adat perkawinan. Untuk itu perlu diungkapkan dan digali kembali tentang tatacara serta nilai-nilai adat pada upacara perkawinan suku bangsa yang ada/asli pada wilayah tersebut. Disamping itu tentunya agar dapat diketahui dan dipahami setiap masyarakatnya sehingga dapat memperkecil benturan sosial serta dapat dilestarikan.

Pertanyaan yang timbul adalah seberapa jauh telah terjadi perubahan sistem nilai, tata cara, organisasi upacara perkawinan, dan apakah telah terjadi perubahan fungsi akibat perubahan sistem nilai dalam adat perkawinan pada masyarakat suku bangsa lembak.

Kebudayaan atau adat istiadat secara khusus merupakan nilai-nilai budaya, pandangan hidup dan cita-cita, norma-norma dan hukum, pengetahuan dan keyakinan. Itu semua merupaka suatu sistem yang dinamakan sistem nilai budaya.

Sedangkan perubahan budaya (Kebudayaan) adalah perubahan yang terjadi dalam sistem nilai, norma-norma, teknologi, selera, kesenian dan bahasa.

Konsep perubahan (change) kebudayaan yang akan dianalisis tersebut selalu dapat dilihat dari spand of time (rentangan waktu) masa lalu dengan masa yang sekarang berlaku. Konsep perubahan dalam rentangan waktu menyiratkan pada kita bahwa sesuatu hal kita temui kini, tidak lagi sama dengan hal tersebut sebagai mana kita ketahui dimasa yang lalu, dan ini dapat kita ketahui jika kita telah mendandingkan sesuatu hal tersebut.Untuk melihat hubungan keterkaitan akibat perubahan adat-istiadat (kebudayaan) khususnya lagi perubahan dalam nilai-nilai upacara tradisional pada suatu masyarakat pendukungnya

Masyarakat adat Lembak Beliti termasuk di dalamnya penduduk Desa Sukamerindu, masuk dalam wilayah pasirah Marga sindang Beliti, sejak keluarnya UU NO. 5 tahun 1979 sistem marga dihapuskan. Sejak Kota padang menjadi Kecamatan Defenitif wilayah Sukamerindu bagian dari wilayah Kecamatan Kota Padang. Beberapa kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun 1986 terjadi pembukaan lahan secara oleh Pemda rejang Lebong di atas lahan kelola masyarakat. Wilayah Sukamerindu ini merupakan batas antara Marga Suku Tengah Kepungut dengan Marga Sindang Beliti Ulu, sekarang desa ini telah banyak datang orang-orang dari luar daerah terutama dari wilyah Semende Lahat.

Desa Sukamerindu ini merupakan salah satu yang desa yang secara administrative termasuk ke wilayah Kecamatan Kota Padang, Kabupaten Rejang Lebong. Desa ini berjarak 7 KM dari ibu kota kecamatan. Sedangkan dari ibu kota kabupaten berjarak 65 KM. Untuk sampai di Desa Sukamerindu dapat ditempu dengan jalan darat dengan kenderaan roda dua dan kenderaan roda empat.

Download

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Awal Mula Tabot Di Bengkulu

Tabot merupakan tradisi sebagian masyarakat Bengkulu untuk mengenang peristiwa tragis kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, dalam peperangan dengan  pasukan ‘Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala Iraq, pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriyah (681 M). Upacara ini diadakan selama 10 hari, yaitu setiap tanggal 1 sampai 10 Muharram. Oleh karena itu, pada awalnya, inti dari upacara Tabotadalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi‘ah dan kaumnya mengumpulkan potongan-potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamnya di Padang Karbala.

Istilah  Tabot berasal dari kata Arab (tabut) yang secara harfiah berarti “kotak kayu” atau “peti”. Dalam al-Quran kata Tabot dikenal sebagai sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israil masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapat malapetaka bila benda itu hilang.

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi‘ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah.

Para pekerja yang merasa cocok dengan tatahidup masyarakat Bengkulu, dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin, memutuskan tinggal dan mendirikan pemukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenal dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengali diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu asli dan menghasilkan keturunan yang dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai.

Tradisi berkabung yang dibawa dari Negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.

Jika pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syi‘ah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi‘ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk yakni memenuhi wasiat leluhur mereka. Belakangan, sejak satu dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini juga dimaksudkan sebagai wujud partisipasi  orang-orang Sipai dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah (baca; Bengkulu) setempat.

Kondisi sosial budaya masyarakat, nampaknya, juga menjadi penyebab munculnya perberbedaan dalam tatacara pelaksanaan upacara Tabot. Di Bengkulu, misalnya, Tabotnya berjumlah 17 yang menunjukkan kepada jumlah keluarga awal yang melaksanakan Tabot; sedangakan di Pariaman hanya terdiri dari 2 macam Tabot (Tabuik) yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Tempat pembuangan Tabot (Tabuik) antara Bengkulu dan Pariaman juga berbeda. Pada awalnya Tabot  di Bengkulu di buang ke laut sebagaimana di Pariaman Sumatera Barat. Namun, pada perkembangannya, Tabot di Bengkulu dibuang di rawa-rawa yang berada di sekitar pemakaman umum yang dikenal dengan nama makam Karbela yang diyakini sebagai tempat dimakamnya Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin.

Belakangan ini, banyak kritikan dari berbagai elemen masyarakat terhadap pelaksanaan upacara Tabot. Satu hal yang paling mendasar dari semua kritikan tersebut adalah berubahnya fungsi upacara Tabot dari ritual bernuansa keagamaan menjadi sekedar festival kebudayaan belaka. Ini nampaknya disebabkan oleh kenyataan bahwa yang melaksanakan upacara Tabot adalah orang-orang non-Syiah. Hilangnya nilai-nilai sakralitas upacara Tabot semakin diperparah dengan munculnya apa yang kemudian dikenal sebagai Tabot pembangunan.

Download

Posted in Uncategorized | Leave a comment