Upacara Tadisional Suku Lembak Kota Bengkulu

Kebudayaan yang hidup dalam setiap suatu masyarakat pendukung dapat berwujud sebagai komunitas Desa, sebagai kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak yang khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Kuntjaraningrat (1983) mengungkapkan bahwa corak khas suatu kebudayaan menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus; atau karena diantara pranata-pranatanya ada suatu pola sosial yang khusus; atau dapat juga karena warganya menganut tema budaya yang khusus.

Corak khas suatu kebudayaan yang ada pada sekumpulan masyarakat itu kita katakan suku bangsa. Untuk lebih jelas dapat dilihat seperti daerah Propinsi Bengkulu terdapat berbagai suku bangsa yang memiliki corak budaya yang khas seperti; suku bangsa Rejang, Serawai, Lembak, Enggano, Kaur, Muko-Muko, Melayu dan lain-lain. Di masing-masing suku bangsa tersebut masyarakat pendukugnya terikat oleh kesadarab dab identitas akan kesatuan kebudayaan.

Masing-masing suku bangsa tersebut biasanya menempati daerah kebudayaan (Culture Area) yang memiliki kebudayaan yang masing-masing mempunyai beberapa unsur yang mencolok. Ciri-ciri yang dapat dijadikan alasan untuk mengklasifikasikan tidak hanya berwujud kebudayaan fisik, seperti misalnya alat-alat berburu, bertani, senjata, bentuk ornamen perhiasan, bentuk tempat kediaman, melainkan juga kebudayaan yang lebih abstrak dari sistem sosial atau sistem budaya, seperti; unsur-unsur organisasi kebudayaan, upacara keagamaan, upacara perkawinan, cara berfikir dan sebagainya.

UPACARA TRADISIONAL

Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dan mempunyai ruang lingkup yang luas bila kita bandingkan dengan sistem nilai budaya lainnya seperti; tingkat norma-norma, tingkat hukum, dan tingkat aturan khusus. Sistem nilai budaya (sistem nilai kebudayaan) merupakan ide-ide yang mengkonsepsi hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.

Sistem nilai budaya merupakan konsepsi yang bernilai tinggi seperti contoh dalam masyarakat yang bersifat universal adalah nilai-nilai kegotong royongan yang sekaligus mencerminkan kekeluargaan.

Tingkat norma-norma dalam masyarakat (sistem norma) merupakan nilai-nilai budaya yang sudah terkait pada peranan-peranan tertentu dari manusia dalam masyarakat merupakan sejumlah norma yang menjadi pedoman bagi kelakuannya dalam memainkan peranannya.

Karena sistem nilai budaya yang hidup dalam alam pikiran pendukung suatu kebudayaan sangat tinggi nilainya, maka hal itu berimplikasi pada sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tertinggi dalam kehidupan manusia dan dijunjung tinggi. Karena adat istiadat merupakan wujud ideal dan bagian dari kebudayaan, maka sistem nilai budaya seolah-olah berada diluar dan di atas dari individu-individu warga dalam masyarakat. Nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat itu telah ditanam dan diresapi oleh setiap individu pendukung suatu kebudayaan sejak kecil, sehingga menjadikan konsep-konsep tersebut berakar dalam jiwa masing-masing individu dalam masyarakat. Dengan demikian nilai-nilai budaya yang ada dalam suatu masyarakat pendukungnnya sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam kurun waktu yang singkat.

Sistem nilai budaya (Cultural value system) akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan mempengaruhi tatacara upacara, bentuk dan jalannya organisasi upacara, fungsi-fungsi dari setiap tatacara upacara yang ada dalam siklus kehidupan masyarakat.

Upacara trandisional dalam suatu kehidupan sangat banyak jenisnya, terutama yang berkaitan dengan daur kehidupan (life cycle) seperti; a). adat upacara menolak balak, b). untuk memperoleh keselamatan, c). upacara untuk mengambil keselarasan dalam kehidupan masyarakat, dan d). upacara adat untuk memperkokoh penghulu dan sebagainya.

Pada masyarakat yang sangat heterogenitas (dari berbagai suku) seperti di Kota Bengkulu tentu akan membawa pada masalah benturan-benturan sosial budaya seperti halnya dalam tatacara adat perkawinan. Untuk itu perlu diungkapkan dan digali kembali tentang tatacara serta nilai-nilai adat pada upacara perkawinan suku bangsa yang ada/asli pada wilayah tersebut. Disamping itu tentunya agar dapat diketahui dan dipahami setiap masyarakatnya sehingga dapat memperkecil benturan sosial serta dapat dilestarikan.

Pertanyaan yang timbul adalah seberapa jauh telah terjadi perubahan sistem nilai, tata cara, organisasi upacara perkawinan, dan apakah telah terjadi perubahan fungsi akibat perubahan sistem nilai dalam adat perkawinan pada masyarakat suku bangsa lembak.

Kebudayaan atau adat istiadat secara khusus merupakan nilai-nilai budaya, pandangan hidup dan cita-cita, norma-norma dan hukum, pengetahuan dan keyakinan. Itu semua merupaka suatu sistem yang dinamakan sistem nilai budaya.

Sedangkan perubahan budaya (Kebudayaan) adalah perubahan yang terjadi dalam sistem nilai, norma-norma, teknologi, selera, kesenian dan bahasa.

Konsep perubahan (change) kebudayaan yang akan dianalisis tersebut selalu dapat dilihat dari spand of time (rentangan waktu) masa lalu dengan masa yang sekarang berlaku. Konsep perubahan dalam rentangan waktu menyiratkan pada kita bahwa sesuatu hal kita temui kini, tidak lagi sama dengan hal tersebut sebagai mana kita ketahui dimasa yang lalu, dan ini dapat kita ketahui jika kita telah mendandingkan sesuatu hal tersebut.Untuk melihat hubungan keterkaitan akibat perubahan adat-istiadat (kebudayaan) khususnya lagi perubahan dalam nilai-nilai upacara tradisional pada suatu masyarakat pendukungnya

Masyarakat adat Lembak Beliti termasuk di dalamnya penduduk Desa Sukamerindu, masuk dalam wilayah pasirah Marga sindang Beliti, sejak keluarnya UU NO. 5 tahun 1979 sistem marga dihapuskan. Sejak Kota padang menjadi Kecamatan Defenitif wilayah Sukamerindu bagian dari wilayah Kecamatan Kota Padang. Beberapa kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun 1986 terjadi pembukaan lahan secara oleh Pemda rejang Lebong di atas lahan kelola masyarakat. Wilayah Sukamerindu ini merupakan batas antara Marga Suku Tengah Kepungut dengan Marga Sindang Beliti Ulu, sekarang desa ini telah banyak datang orang-orang dari luar daerah terutama dari wilyah Semende Lahat.

Desa Sukamerindu ini merupakan salah satu yang desa yang secara administrative termasuk ke wilayah Kecamatan Kota Padang, Kabupaten Rejang Lebong. Desa ini berjarak 7 KM dari ibu kota kecamatan. Sedangkan dari ibu kota kabupaten berjarak 65 KM. Untuk sampai di Desa Sukamerindu dapat ditempu dengan jalan darat dengan kenderaan roda dua dan kenderaan roda empat.

Download

About these ads

About ilojack

Selalu ingin tau apa yang belum aku ketahui..
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s